Belum Punah
Sore itu, mendekati jam pulang kerja. Saat-saat para pekerja berlarian menuju halte busway, berlomba-lomba dengan senja di langit Jakarta tentang siapa yang lebih dulu tiba.
Transjakarta yang ditumpangi Barra semakin sesak rasanya.
Beruntung Barra memiliki postur tubuh yang ramping nan tinggi, sehingga ia tidak begitu memakan tempat.
Tangannya mencengkeram erat pegangan tangan yang bergelantungan di dalam busway yang ia tumpangi. Berusaha berbagi ruang dengan penumpang lainnya.
Hujan yang begitu deras membuat kaca-kaca busway tersebut semakin buram dan berembun. Barra mengeratkan jaket bomber dan membenarkan posisi tas laptopnya.
Busway berhenti di Halte Transjakarta Karet Sudirman. Beberapa penumpang dengan tujuan yang sama memasuki busway dengan pakaian yang sedikit basah. Nampak seorang perempuan berkemeja cokelat dengan flat shoes hitam mengambil posisi tidak jauh dari Barra berdiri. Perempuan dengan tinggi semampai dengan segala hal di tubuhnya yang terlihat sangat pas dan manis itu memasuki busway dan berdiri membelakangi Barra.
Barra sendiri tahu betul siapa sosok perempuan yang baru saja memasuki busway yang sama dengan dirinya tersebut. Bahkan bisa dikatakan lebih jauh dari sekadar mengetahui. Barra mengenalinya; mengenali setiap inci dari kehidupannya. Bahkan, jika ditanya siapa nama ayah perempuan itu pun, Barra akan menjawabnya dengan suara lantang dan berani.
Memang terkesan lucu kalau diingat.
Barra masih terus memerhatikan perempuan itu. Ternyata perempuan itu hanya bertambah tua; namun soal postur tubuh... ternyata tidak ada yang berubah. Masih seperti anak Sekolah Menengah Pertama yang ingin mengikuti MPLS.
Barra dan isi kepalanya memang begitu absurd. Akan tetapi, perasaan tetaplah perasaan. Debar di dada dan perasaan seperti sedang bermimpi membuat tubuhnya mematung di tempat. Menimbulkan segala pertanyaan dan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.
Busway berhenti di halte selanjutnya. Beberapa penumpang baru semakin membuat sesak isi Transjakarta itu.
Tinggi badan semampai yang dimiliki perempuan itu membuatnya terdesak dengan tas-tas penumpang. Ia dikelilingi dengan orang-orang besar layaknya Dreadnoughtus yang siap melenyapkannya kapan saja.
Perempuan itu memundurkan langkahnya, mengambil ruang yang tersisa di samping Barra. Hal tersebut pun membuat degup jantung Barra semakin cepat tak karuan rasanya. Rasanya persediaan oksigen di dalam busway itu begitu menipis. Namun, sepertinya perempuan itu masih belum menyadari keberadaan Barra di sampingnya. Terlebih lagi pandangannya hanya sampai pada dada bidang milik Barra.
Perempuan itu terlihat tidak begitu nyaman dengan keberadaan beberapa laki-laki yang semakin merapatkan tubuhnya ke arahnya. Lalu, Barra dengan tingkah 'sok jagonya' dengan sigap membentengi perempuan yang sejak kemunculannya itu belum juga berniat untuk melihatnya.
Sore itu, rasanya Barra ingin menanyakan bagaimana kabar perempuan itu. Tetapi, sepertinya saat itu bukanlah waktu yang tepat. Lalu, kapankah waktu yang tepat itu?
Tiba-tiba saja busway yang mereka tumpangi mengerem secara mendadak, membuat tubuh perempuan itu kehilangan keseimbangan dan dengan reflek menarik ujung jaket bomber milik Barra, "E-ehhh... sorry sorry, Mass."
Saat itu juga tatapan mata mereka bertemu. Tidak ada sesi jeda dalam momen saling tatap tersebut layaknya sinetron pada umumnya. Keduanya dengan cepat kembali pada posisi awal. Menyisakan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Menyisakan berbagai pertanyaan yang tak menemukan jawabannya.
AC busway semakin terasa menusuk kulit mereka, ditambah lagi hujan di luar terlihat semakin deras.
Tatapan mata Barra beralih pada sebuah benda mungil berkilau yang melingkar manis di jari manis perempuan di sisinya itu.
"Ohhh, jadi dia sudah menikah yaaa?" gumamnya dalam hati dengan perasaan pilu sekaligus senang; senang karena perempuan itu tidak lagi terjebak di hubungan tidak sehat bersama laki-laki yang dengan dirinya sendiri saja ia masih bingung.
Perempuan itu terlihat canggung dan menghindari Barra secara terang-terangan. Ia berpindah tempat ke bangku khusus wanita yang sudah kosong kemudian ia menyelipkan earphone putih ke dalam telinganya.
Barra mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang kabar perempuan itu setelah tidak dengannya, karena ia pikir sebuah benda mungil di jari manis perempuan itu sudah bisa menjawabnya.
"Memang baiknya sesuatu yang sudah berlalu, cukup disimpan di masa lalu. Gak perlu dibawa ke tempat baru. Karena masanya udah beda, mungkin perasaanya juga udah beda." Barra cukup mengerti mengapa perempuan itu menghindarinya.
Ternyata memang tidak mudah, berdamai dengan situasi dan kondisi atas sebuah hubungan yang harus diselesaikan secara paksa.
Transjakarta tersebut berhenti di halte Pasar Kramat Jati.
Beberapa penumpang turun; begitu juga dengan perempuan itu. Ia berlalu dari hadapan Barra tanpa berniat sedikitpun untuk melihatnya.
Dari luar, nampak seorang laki-laki berkemeja navy dengan jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya bersiap untuk menyambut kepulangan perempuan itu.
Laki-laki itu tersenyum sembari mengelus puncak kepala perempuan itu persis seperti yang dilakukan Barra 'dulu'. Tak lupa juga laki-laki itu mengusap-usap perut perempuan itu dengan begitu lembut.
Deg.
Dulu senyum perempuan itu begitu menyejukkan hati seorang Barra. Namun, detik ini... semakin manis senyum itu rasanya justru semakin menyakitkan. Bohong jika saat itu juga Barra tidak ingin menangis.
Raga yang dulu dengan mudahnya ia jangkau kini berada di pelukan orang lain.
Mereka memang se-dekat ini, tapi juga se-jauh itu untuk menanyakan kabar masing-masing.
Barra menguatkan hatinya, menatap mantap ke arah kaca depan busway sore itu. Menyadari bahwa kisahnya dengan perempuan itu memang sudah selesai.
Transjakarta itu kembali melaju, berlalu begitu saja dari halte tempat perempuan itu pulang. Pulang ke pelukan lain yang pemiliknya bukan lagi Barra.
Dan... sejauh apapun Transjakarta itu melaju, sejauh itu juga usaha Barra mengikhlaskan perempuannya yang kini sudah jatuh ke pelukan manusia lainnya. Yang cukup baik dalam segala hal dibanding dirinya dan tidak se-berantakan kehidupannya.
Inilah titik tak berujung dalam mencintai perempuannya yaitu dengan mengikhlaskannya.

semangat terus yaa;)
BalasHapusof course! π
Hapusbaru baca, keren ❤️
BalasHapusthank u!!
HapusKewren bgttt,kamu hebat,kamu bisa sehat selalu luv u bangπ
BalasHapusterimaa kasiih abangg!! <3 sehat" jugakk luv
HapusIni bagus banget, semangat terus yaa nulisnyaaa
BalasHapusAAA terimaa kasih kak π
Hapus