Kamu dan Apa-apa yang Menghantuiku

Sepulang kerja, aku mampir ke warung makan yang letaknya tidak jauh dari kantorku. 

Kalau kamu ingat, warung ini adalah tempat favorit kita setiap memasuki malam minggu; dulu.

Dan kini, aku kembali datang ke sana. 

Sendiri; tidak lagi bersamamu. 


Setelah memesan menu makanan dan minuman di sana. Ibu penjual melontarkan beberapa pertanyaan hangatnya seperti dulu. 

"EHHH MASNYAA, GIMANA KABARNYAA? udah lama banget gak mampir ke sini. Sehat kan mas?"

"Alhamdulillah baik, Buk. Alhamdulillah sehat juga. Ibunya gimana kabarnya? lama gak ke sini, ibunya tetep awet muda yaa." 

"HAHHAAH. Masnya bisa aja. Alhamdulillah kabar ibu baik juga kok. EH iya... ngomong-ngomong... mbaknya yang biasanya gak diajak ta mas?" 


Rasanya dalam waktu seperkian detik, detak jantungku berhenti. Sebelum akhirnya berdetak kembali.


"Aduhh... Gimana ya, Bukk. Kalo itu kayaknyaa... gak perlu dijawab deh, Buk. Hhhe" aku tertawa kecil dan salah tingkah sendiri. Ibu penjual mengangguk paham. 

"Tetep semangat ya mas! Yaudah, silakan duduk dulu mas, ibu tinggal siapin makanan paling enak kayak biasanya dulu yaa." Ibu penjual menepuk-nepuk punggungku seperti anaknya sendiri. 

Aku tersenyum. Jujur bingung juga harus menjawab pertanyaan tadi dengan jawaban seperti apa.


Itulah akibat dari mengenalkan seseorang kepada hal-hal yang kamu sukai. 

Dia akan hidup di banyak hal yang menjadi bagian dari hidupmu. 

Dia akan hidup di setiap jalanan yang pernah kalian lewati bersama. 

Lagu-lagu tentang kalian yang dulu dengan sengaja kamu buatkan playlist khusus. 

Jokes-jokes garing yang terdengar lucu meskipun sudah berulang kali dibahas.

Dan suatu hari, kamu terduduk sendiri. 

Membiarkan semua hal itu berlarian di kepala dan kamu masih juga tidak bisa membenci bagaimana semua harus berakhir begitu saja. 



Aku duduk di satu bangku yang masih tersisa di sana. 

Maklum, warung makan ini selalu ramai setiap malam minggu seperti ini, terlebih dulu katamu makanan di sini rasanya enak banget.

Tak berselang lama hidangan yang aku pesan tiba. 

Aku menyantapnya dengan pikiran yang entah lari ke mana. 



pict hanya pemanis
source: https://pin.it/bcKEAsBck



Setelah suapan pertama, aku sejenak mengedarkan pandanganku ke segala arah, berharap kamu datang kembali ke tempat ini untuk sekadar menikmati cita rasa khas warung makan ini atau mengingat kembali tentang kita dulu seperti yang tengah aku lakukan saat ini.


Aku membuang napasku dengan berat, 

Huuftt... I really miss youuu, and I wish you were here with me.... 


Dadaku terasa sedikit perih seperti ada sesuatu yang mencakar dan merobeknya dari dalam. Sakit sekalii. 


Dua sejoli dengan cincin yang sama di masing-masing jari manis sebelah kiri mereka, tengah berbagi tawa di tempat dulu kita berdua duduk. 


`Entah karena aku yang tidak kemana-mana atau kamu yang ada di mana-mana.`


Aku merasa mereka dengan sengaja membuat aku iri dengan momen yang sedang mereka lakukan.

Pertanyaan-pertanyaan tidak dapat ditebak yang laki-laki itu lontarkan persis seperti aku dulu, ketika sedang duduk berdua di sini dengannya. 

"Coba jawab dulu, 1 ons sama dengan berapa kilogram?" Kudengar pertanyaan itu terlontar begitu saja ketika si Perempuan baru saja ingin menyantap hidangan yang tersaji. 

Perempuan itu mendengus kesal, membatalkan suapan pertamanya, "ISHHHH, Kamu mahhh... Aku lagi mau makan ya bukan cerdas cermatt!"

"HHHAHA, yaudah jawab dulu sayangg... kalo 1 kwintal sama dengan 100 kilogram, berarti 1 kilogramnya ada berapa gram cobaa?" laki-laki itu menyeruput es teh manis milik Si Perempuan. 

Kemudian si Perempuan menertawakan dirinya sendiri sembari menoyor pelan pipi kanan tunangannya itu.

"Gatauu ah, kamu pikir sendiri ajaa. Aku mau makan ihh."



Ibu penjual menoleh ke arah mereka. Ikut tersenyum dan tertawa kecil; sama sepertiku.

"Tuhh liatt,  ibunya aja sampe ikut ketawa," laki-laki itu menoleh ke arah ibu penjual. Aku memerhatikan mereka dari belakang. 

"Hhhee, lagian ada-adaa aja ya mbak. Lagi makan malah diwawancara gitu, kalo ibu mah ditanya begitu sama sekali gak tahu mbak. Soalnya dulu sekolah SD aja gak sampe lulus." 

Si Perempuan mengganggukkan kepala, merasa ibunya ada di pihaknya. "Tauu tuh, Buu. Omelin aja, Buu. Rese emang dia."


Kemudian, mereka bertiga saling menertawakan satu sama lain. 

"HHAHAH. Iya Bu, kalo dia ini lulusan S-1, Bu. Padahal sekarang kerjanya juga bagian itung-itungan gitu, Bu. Parah banget ya bu masa gak tahu yaa. Dia dulu kayaknya lulusnya jalur ketuker deh, Bu. Gara-gara ada nama lain yang mirip kayak nama dia," laki-laki itu terus menggoda dan mengejek perempuannya. Perempuannya terlihat semakin kesal namun tidak bisa sepenuhnya marah. 

"TUHHH KANN, BUU. Ngeselin banget tauu diaa. Rese bangettt, masa setiap mau makan harus jawab soal cerdas cermat yang dia kasih," perempuan itu melirik sekilas tunangannya dan mengambil alih es teh manis miliknya.

Ibunya menanggapi dengan menggelengkan kepala sembari tertawa dan kembali melayani para pembeli yang sudah mulai berkurang antreannya. 


Aku; ikut tersenyum melihat mereka dari bangku belakang yang tidak jauh dari mereka berdua duduk. 

Sialan. Aku jadi ingat bagaimana manisnya wajah perempuan yang dulu bersamaku. 

Aku tidak berbohong, Perempuan itu  mampu membuat setiap tempat menjadi lebih hangat dan menyenangkan.  

Dia memiliki tatapan mata yang begitu indah dan berbinar. 

Dia seperti lagu Nidji yang berjudul Rahasia Hati, atau lagu About You milik The 1975.

Benar-benar indah.


Aku tersesat di dalam ingatanku, mengingat bagaimana "kami" di masa "itu"

Mengingat bagaimana sepanjang jalan menuju warung makan ini terasa begitu magis untuk dipijaki. 

Berjalan beriringan dengan langkah yang tidak lebar. 

Menikmati setiap sapuan lembut udara malam di malam minggu; sepulang kerja. 

Menikmati setiap jeda yang mendebarkan dan tawa kami yang tidak begitu keras. 


Ah, kalau saja kita masih bersama, apakah kita masih bisa melakukan aktivitas seperti dua sejoli di depanku ini? 



`Entahlah... 
Pulang ke tempat yang tidak ada lagi kamu rasanya seperti pulang ke tempat yang entah. 
Aku masih sering menemukanmu lewat momen-momen kecil yang aku lihat di manapun aku berada.`



Jika saja kamu tahu, setiap bagian kota ini masih menyimpan wangimu yang wanginya manis seperti wangi permen stroberi.

Masih ada juga rekaman suara renyah tawamu.

Matamu yang menyipit sembari memukul lenganku atau mencubitnya dengan tangan kecilmu itu. 

Lalu aku bertingkah seolah itu menyakitiku dan wajahmu berubah khawatir padahal hatiku begitu senang melihat tingkahmu itu.


Banyak yang berubah ketika kamu tidak lagi denganku.

Aku tidak lagi dibuat tersenyum ketika bangun tidur melihat notifikasimu muncul di layar handphoneku.

Benar-benar seperti mayat hidup.

Rasa kantuk yang menyerangku dengan hebat di sepanjang hari. 

Kantong mataku yang menghitam, tatapan mata yang lesu, rambut yang berminyak dan acak-acakkan juga kondisi kamar yang berantakan. 


Meski ada beberapa hal yang membuat hubungan kemarin rentan akan perpisahan, tapi percayalah manusia yang pernah kamu sebut brengsek ini masih berusaha untuk mempertahankanmu dan memang hanya kamu yang dia inginkan.

Seolah yang lain hanya sebatas serbuk kopi sachet yang tidak ada apa-apanya dibanding kamu. 


Setiap pergi ke luar rumah aku selalu dibuat was-was

Takut berpapasan lagi denganmu tetapi di sisi lain aku juga merindukanmu.

Ingin tahu bagaimana kabarmu tetapi di waktu yang sama mengetahui segala aktivitasmu saat ini yang pastinya jauh lebih bahagia setelah tidak denganku rasanya seperti ditikam hidup-hidup. 

Dadaku terasa sesak tetapi tidak bisa menangis.



`Hal paling kampret yang aku rasakan adalah; ketika rasa sakit itu ada tetapi aku tidak berpikir untuk mencari yang lain selain kamu. Ternyata aku masih ingin kamu.  Selalu.`



Entahlah... 

Setelah kepergianmu, aku ingin mencari yang seperti kamu. 

Yang mirip sekali denganmu atau kalau bisa denganmu saja!?





Komentar

  1. ini nulisnya nyindir sy kah?

    BalasHapus
  2. tidak ada yg abadi, jadi hargailah momen" kecil dengan org yg kamu sayang sebelum semuanya menjadi kenangan 😋

    BalasHapus
  3. for the first time bacanya berasa ngena banget. I appreciate untuk karya bagus seperti ini, sukses semoga menjadi penulis yg hebat dan terkenal dengan karya karyanya. salam hangat dan sehat selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. masyaa Allah AAMIIN, thank u supportnya kak dimas! salam hangat dan sehat selalu juga

      Hapus

Posting Komentar