Anak Kecil itu Sudah Dewasa
Hidup berjalan lebih cepat dari langkah kaki kita sendiri. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Layaknya kereta yang berangkat dari stasiun; mengucapkan selamat tinggal untuk selamat datang di stasiun selanjutnya. Tak terasa kita semakin menua. Dari anak kecil yang taunya hanya makan permen yang mengakibatkan giginya keropos, kini menjadi seseorang yang memiliki cara pandang akan hidup yang begitu rumit.
Menjadi seseorang yang sudah harus mempunyai tanggung jawab akan dirinya sendiri dan semua mimpinya. Bukan lagi anak kecil yang bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan akibatnya. Anak kecil yang taunya hanya senang, taunya hanya tertawa, taunya hanya bahagia.
Menjadi dewasa ternyata tidak semudah itu. Persoalan hidup rasanya kian berat. Ruang bahagia rasanya semakin sempit. Lingkup pertemanan semakin kecil. Ternyata, menjadi dewasa tidak se-menyenangkan bayanganku ketika dulu aku kecil. Semakin beranjak dewasa semakin mahir berpura-pura. Bersandiwara dengan topeng-topeng yang kita punya.
Pada akhirnya, diri kita sendirilah yang akan membantu kita untuk berdiri ketika kita terjatuh. Seringkali bersembunyi di bilik yang gelap dan kecil di dalam diri ini, mencoba meluapkan emosi dan perasaan yang sebelumnya kita sembunyikan dari pandangan orang lain. Kita menjadi lebih sering merenungi hidup.
Menjadi seseorang yang sudah harus mempunyai tanggung jawab akan dirinya sendiri dan semua mimpinya. Bukan lagi anak kecil yang bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan akibatnya. Anak kecil yang taunya hanya senang, taunya hanya tertawa, taunya hanya bahagia.
Menjadi dewasa ternyata tidak semudah itu. Persoalan hidup rasanya kian berat. Ruang bahagia rasanya semakin sempit. Lingkup pertemanan semakin kecil. Ternyata, menjadi dewasa tidak se-menyenangkan bayanganku ketika dulu aku kecil. Semakin beranjak dewasa semakin mahir berpura-pura. Bersandiwara dengan topeng-topeng yang kita punya.
Pada akhirnya, diri kita sendirilah yang akan membantu kita untuk berdiri ketika kita terjatuh. Seringkali bersembunyi di bilik yang gelap dan kecil di dalam diri ini, mencoba meluapkan emosi dan perasaan yang sebelumnya kita sembunyikan dari pandangan orang lain. Kita menjadi lebih sering merenungi hidup.
Terlalu fokus menjadi bahagianya orang lain, sampai lupa kalau diri sendiri juga butuh dibahagiakan. Karena hanya anak kecil ini yang tidak akan pergi ketika nanti semua orang sibuk dengan mimpi-mimpinya. Dan aku juga akan berjuang bersama anak kecil di dalam diriku ini.


Komentar
Posting Komentar