Juni yang Dingin
Sorot matamu yang teduh dengan cekungan di bawah mata; hasil kau terjaga di sepanjang malam karena harus bekerja adalah sorot mata yang begitu rugi untuk tidak kuselami lebih dalam.
Retinamu yang berwarna hitam kecokelatan adalah samudra yang paling ingin aku jelajahi di setiap waktu.
Ditambah lengkungan tipis dari bibirmu yang kecil dengan kumis tipis di atasnya; begitu mubazir untuk dilewatkan begitu saja.
Namun... bagaimana mungkin; kau lekas memilih untuk menjadi yang paling sulit ditemukan?
Apakah dengan cara seperti ini kau ingin melupa?
Apakah kau juga terluka dengan jalan yang pada akhirnya harus kita jalani ini?
Mungkin kita sedang berpura-pura mengubah keadaan terlihat baik-baik saja?
Atau mungkin antara kau dan aku diam-diam sedang memupuk rindu yang tidak berkesudahan?
Aku rindu, apa kau merasakan hal yang sama?
Sebuah raga yang tidak lagi bisa kuraih.
Sebuah nama yang menjadi lancang untuk kuucapkan secara berulang.
Kau raib di setiap kali mataku memandang.
Seolah-olah saat ini kau sedang mencoba membunuh hidup-hidup kenangan tentang kita yang masih saja membekas di kepala.
Bersarang pada setiap detik yang terasa begitu pilu.
Mengendap di kericil-kericil kecil Taman Kota.
Bersembunyi di balik bantal tidurmu lalu beralih masuk ke dalam mimpimu.
Lalu, kau akan terbangun dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan.
Menganggap momen indah di mimpimu adalah kenyataan.
Yang ternyata tidak lain hanya bayang-bayang indah yang akhirnya membuatmu kembali menahan diri untuk tidak menangis.
Ingatkah kau? Bagaimana saat kita berbagi tawa di Taman Kota; seolah tidak ada yang bisa menandingi kebahagiaan kita di hari itu?
Saat di mana angan-angan tentang perpisahan merasa sungkan untuk bertamu di kepala.
Ah, bukan dengan cara seperti ini aku ingin kita berakhir.
Bukan berakhir yang se-jauh; se-pahit; dan se-menyakitkan ini....
Karena sejujurnya, setelah keputusan hari itu yang terpaksa harus kita terima, pelukmu adalah pulang yang selalu ingin aku kunjungi.
Sebuah raga yang selalu ingin kurengkuh lebih lama.
Namun, di penghujung hari; aku hanya mampu mengucap...
Selamat berkelana, Tuan.
Selamat melanjutkan perjalanan.
Selamat saling membelakangi.
Selamat saling melupakan.


apaa apaan sii koo bisaaa sedalemm iniii!!!! kerrennnnnn!!!
BalasHapusHHHAHA BISA AJAA, btw terima kasii ya, udah support teruss 🤩
Hapuskalimatnya sangat indah
BalasHapusterima kasii yaa
HapusKereenn
BalasHapusterimaa kasii, u too!
Hapus