Sudah Ya, Nindy.
Ternyata mau sejauh apapun gue mencoba untuk terus berlari dan sembunyi, rasa sakit itu tidak benar-benar pergi.
Saat ini usia gue sudah memasuki kepala tiga dan masih betah memilih untuk sendiri.
Setelah gagal dari hubungan yang terbilang lama, gue berpikir sendiri adalah pilihan terbaik.
Gak ada niat sedikitpun di hati gue untuk mencari sosok pendamping; pasangan; atau teman hidup.
Gue kehabisan energi. Jatuh cinta rasanya gak semudah dulu. Menurut gue, sendiri juga gak serem-serem amat sih.
"Ren, kenapa lo gak bikin akun Instagram atau medsos lain gitu sih? emang gak pengin pamer kehidupan kayak manusia pada umumnya?"
Gue tersenyum kecil, "Yaelah, Chak. Ini aja WhatsApp kalo bukan karena kerjaan, udah gue hapus."
"Emangnya...lo gak kepo sama kehidupan Nindy?"
Sejenak gue diam dan berpikir. Pertanyaan Chaka membuka luka lama itu lagi.
"Justru itu, Chak. gue pindah ke kota ini biar gue gak inget dia lagi. Gue gak mau bawa apapun tentang Nindy ke kota ini. Biarin kenangan gue sama Nindy yang dulu; hidup di kota itu. Gak di sini."
"Oke okee. Tapi gua cuma mau ngasih tau satu hal." Raut wajah Chaka sedikit lebih serius. Gua memberikan gestur bertanya.
"Nindy pernah nanyain kabar lo ke gua. Dia juga ngomong ke gue kalo dia sempet nanyain kabar lo lewat E-mail lo yang lama. Tapi gak ada respon apapun dari lo, sebelumnya dia juga ngechat lo di WhatsApp, gak ada tanda kehidupan sama sekali. Jadi dia nanya ke gua, gua punya no WhatsApp lo yang baru apa gak gitu."
"Oh ya? Terus-terusss, gimanaa, Chak? Lo jawab apaa?" tanpa sadar gue terlihat excited mendengar hal itu.
"Tuhh kan, lo masih kepo juga 'kann? Gua jawab gak punya. Emang waktu dia nanya kan gua belum tau gimana kabar lo setelah ditinggal Nindy nikah. Btw, dia aktif banget di Instagram, Ren. Kalo lo kepo, nih lo bisa search aja username nya. Gua curiga sampe sekarang lo gak kepikiran mau nikah karena masih kepikiran Nindy ye?"
"Idihh, ngarang aja lo, Chak!"
"HHHAA ya gapapa kalo gak mau jujur mah. Nih... kalo lo mau liat keadaan Nindy sekarang gimana." Chaka memberikan ponselnya ke gue.
Gue menarik napas cukup dalam dan menghembuskannya secara kasar. Dengan wajah yang tenang gue memutuskan untuk membuka profil instagram Nindy.
Melihat postingan-postingan keluarga kecilnya yang terlihat begitu hangat dan penuh kasih. Nindy dikaruniai sepasang anak. Perempuan dan laki-laki. Gue perhatikan suaminya memang gak lebih ganteng dari gue, tetapi dia terlihat begitu menyayangi Nindy. Syukurlah.
Ada perasaan senang, lega juga perasaan sakit yang datang bersamaan. Lega, melihat Nindy bisa sebahagia itu. Sekaligus sakit, karena pada akhirnya bukan gue yang jadi suaminya dan bapak dari buah hati kami berdua nantinya.
Gue memutuskan untuk menyudahi tindakan tersebut dan memberikan ponsel itu kepada Chaka setelah gue melihat satu foto acara ulang tahun anak keduanya dan menyadari bahwa nama anak keduanya tersebut ternyata sama seperti nama panggilan gue.
"Nama panggilan anak laki-lakinya ini sama kayak nama gue, Chak?"
"Yoii, Ren."
"Terus maksud dia nanyain kabar gue lewat E-mail waktu gue ngilang itu apa dah? Kan udah gak ada hubungan apa-apa juga?"
"Mungkin, dia pengin tau kabar lo sekarang gimana? Atau emang gak mau silaturahmi kalian putus gitu aja. gak sih? Ya aneh juga sih, gua gak paham juga. Ya lagian ya, Ren. Kalo diinget-inget... lo ngilang gitu aja waktu lo tau Nindy mau akad nikah sama orang lain 'kan? Yaa... Kalo gua sih memaklumi sikap lo itu, tetap berhubungan sama Nindy juga pasti tetep berasa sakitnya. Apalagi dengan status dia yang udah bukan calon istri lo lagi. Tapi udah jadi istri orang lain." Chaka yang semula menatap gue kini pandangannya beralih lurus ke depan.
"Gua ngerti, emang gak akan semudah itu mengikhlaskan seseorang yang pernah ada di rencana masa depan kita. Lo sama Nindy jalanin hubungan selama itu, pasti banyak rencana yang pengin lo wujudkan berdua di masa depan'kan? Waktu itu...gua cuma khawatir aja lo gangguan jiwa, Ren. Syukur-syukur masih bisa ketemu dalam kondisi masih sehat begini di sini."
Gue tersenyum kecut. Kalimat Chaka membuat gue menyadari bahwa kejadian lama itu sejujurnya memang menyedihkan. Dan gue gak mau orang tahu bahwa gue juga bisa sedih dan sedikit frustasi saat itu.
"Lo ganti no baru, gak ada yang tau lo di mana sampe tiba-tiba gua bisa ketemu lo di sini karena pekerjaan. Selama lo ngilang, beberapa kali Nindy masih aja nanyain kabar lo ke gue. Ya gua juga pengin tau kabar lo, tapi gue sendiri aja gak tahu kabar lo dan di mana lo tinggal saat itu. Bahkan gak ada yang tahu lo masih hidup atau nggak'kan, Ren?"
Chaka memberi jeda sejenak, "Semanis apapun sebuah perpisahan, mau bagaimanapun, dia pernah jadi yang ter-spesial dan pernah lo semogakan. Wajar kalo kehilangan dia secara tiba-tiba rasanya bakal sesakit itu, Ren."
"Sebagai temen, gua ngerti perasaan lo. Lo sama dia juga kan lama banget dulu, tapi lo juga berhak bahagia dengan siapapun lo nantinya. Gue yakin lo bisa melalui semua ini, Ren! Kalo ada apa-apa, jangan sungkan buat ngabarin gua. Gua usahain bantu lo sebisa gua. Karena kalo kabarin Nindy kan... udah jadi istri orang ya? Hhhha." Chaka memberikan cengiran tanpa bersalah.
Sialann.
"MULAII NIH MULAIII!"
"Yaudah... Yaudah, gua cuma mau nyampein itu. Gua mau balik dulu, Ren. Maklum udah punya istri, harus tau kapan waktu pulang. Kalo lo mah hilal yang mau dijadiin istrinya juga belum keliatan gak sih? Masih sibuk berkelana ya, Ren!? HHHHAA." Chaka menepuk punggung gue sembari tertawa dan segera pergi meninggalkan gue sendirian,
"EMANG DASARR KAMPRETTT LOO, CHAKK!!! IYAA IYA YANG UDAH PUNYA ISTRII IYAA...."
Setelah kepergian Chaka, entah mengapa beberapa kalimat yang ia katakan cukup menyentil perasaan gue. Chaka benar. Semanis apapun perpisahan, Nindy pernah jadi nama yang paling gue semogakan. Namanya selalu jadi serangkaian kata yang tidak pernah lupa untuk gue sebut sebelum kata, "Aamiin..." ya meskipun tampang gue gak cocok sih kalo ngomongin ibadah begini. Tetapi serius, Nindy adalah perwujudan teman hidup yang dulu begitu memenuhi rencana-rencana di masa depan yang gue berharap bisa kami wujudkan bersama.
Gue mengedarkan pandangan gue ke sekitar. Tersenyum dengan kebodohan ini.
Gue pikir setelah sekian lama gue pergi, menjauh dari apapun yang menyangkut tentang Nindy; gue sudah selesai.
Ternyata, semua jadi terasa lebih sulit. Gue jadi tahu bahwa kehidupan Nindy jauh lebih baik dan itu bukan karena gue.
Sialnya, kehidupan gue pernah jauh lebih baik; dan itu saat masih bersama Nindy.
Ternyata sejauh apapun gue lari,
luka itu masih ada.
luka itu masih ada.


Komentar
Posting Komentar