Kembali untuk Pergi
Lembayung yang begitu cantik mulai menampakkan wujudnya. Motor vespa rally 200 keluaran tahun 1976 terparkir di halaman rumah seorang gadis manis bernama Agatha.
Seorang gadis manis itu melemparkan secuil senyuman manisnya yang jarang ia perlihatkan kepada seorang laki-laki berzodiak Capricorn yang diketahui namanya adalah Ardy.
"Sorry yaa, jadi nunggu lama," ucapnya dengan tangan yang kerepotan memasang helm.
"Santai aja." Ardy dengan sigap membantu Agatha yang kesulitan menge-klik-kan helmnya.
Entah sejak kapan kaca spion kecilnya mengarah tepat di wajah Agatha dan memantulkan wajah gadis itu dengan jelas. "Udah siap, Tha?" Agatha menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Kendaraan roda dua ini mulai melaju; membelah jalanan ibukota dan gedung-gedung pencakar langit yang menghiasinya.
Semilir angin membelai lembut rambut Agatha seiring langit yang kian meredup menyembunyikan senyumnya.
"Banyak yang berubah dari kamu, yaaa, Dy," celetuk Agatha, memecah kecanggungan diantara keduanya. "Sekarang jadi sedikit lebih romantis."
"Dulu tuh... kamu kaku banget tau," Agatha tersenyum.
Ardy melirik kaca spion, begitu pula Agatha.
"Ehh iyaa, btw...tumben banget kamu ngajakin ketemu. R u ok?"
Pandangan Ardy masih lurus ke depan, "Ya... kebetulan lagi pengen makan di luar aja. Kebetulannya lagi... lo gak bilang kalo lo lagi sibuk nugas'kan? jadi kita bisa ketemu. "
Agatha tertawa kecil. Menyadari bahwa dirinya selalu memprioritaskan segala tugas dari dosennya hingga tak sempat menyempatkan waktu untuk urusan lain.
Tak terasa motor vespa tua milik Ardy sudah mendarat di depan angkringan 77 yang dulu sering mereka kunjungi.
"Lo tunggu disini, biar gue yang pesen." Ardy bergegas meninggalkan Agatha.
Seperkian menit kemudian ia telah kembali dengan membawa dua gelas susu jahe madu.
"Thank uu... ternyata kamu masih inget aja ya...." Agatha menyambut gelas berisi susu jahe madu miliknya dengan senyum sumringah.
"Gimana gak inget, Tha. Lima tahun gue liat semua kebiasaan lo dan semua hal yang lo suka," Ardy meletakkan pesanan mereka berdua di hadapan Agatha.
"Lima tahun, Tha... bukan waktu yang sebentar buat gue untuk gak inget sama semua hal yang menyangkut tentang lo," Ardy menatap lekat kedua manik mata perempuan di hadapannya.
"Juga bukan waktu yang sebentar untuk dilupain gitu aja." Ardy menyeruput susu jahe miliknya.
Agatha tidak merespon sedikitpun topik obrolan Ardy, hingga akhirnya sepiring nasi bakar berisi ayam memecah kecanggungan di antara mereka.
"Eh iya, pacarmu apa kabar? Kata temen-temen yang lain kalian bucin banget di medsos. Aku ikut seneng dengernya.''
Ardy menyunggingkan bibirnya sambil memainkan sendok teh, "Mmm... kedengerannya... se-indah itu ya, Tha? "
Agatha tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan laki-laki di hadapannya ini. "Kok ngomongnya begitu? " sambung Agatha.
"Yaa... gak apa-apa sih," Ardy kembali menyeruput susu jahe miliknya. "Btw... lo sendiri sekarang gimana? "
"Ya... begini-begini aja. Lagi proses sembuh dari yang kemarin." Agatha memainkan sendok makannya.
"Lo selalu ketemu sama modelan cowo yang nyia-nyiain perasaan lo ya.... "
"Kayak gue dulu?" sambungnya.
"Gak tau deh, aku cuma berusaha jaga dan pertahanin apa yang udah aku pilih aja, Dy. Termasuk kita yang dulu'kan?"
"Sorry ya, Tha...." Ardy menatap Agatha dengan tatapan yang begitu sendu.
"Gimana ya, Tha. Jujur dari semua orang yang pernah sama gue, selalu ada hal spesial dari lo yang gak pernah bisa gue temui di diri siapapun, Tha."
"Hah gimana gimana? " Agatha memberikan ekspresi bingungnya.
"Ya... lo tuh beda dari semua yang pernah sama gue. Gue pikir gue berhasil memulai hidup baru gue setelah kita gak sama-sama. Ternyata, gue cuma nyari kita yang dulu di orang lain; yang gak tau apa-apa tentang kita. Termasuk sama yang sekarang ini sih,"
Tersisa hening di antara mereka berdua. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.
"Jahat banget ya gue...." Pandangan Ardy kosong. Bertemu kembali dengan Agatha membuat dirinya semakin bingung; marah dengan dirinya sendiri namun ia juga senang bisa bercengkrama kembali dengan Agatha di sini.
"Jangan pernah nyari sosok aku di orang lain. Semua orang punya masanya kok. Tokoh lama tempatin di kisah lama; kisah yang gak perlu kamu bawa-bawa di kisah selanjutnya. Setiap perjalanan kamu pasti ada tokoh pendukungnya kan? ikhlasin yang udah berlalu. Gak baik tauu kalau terus-terusan dijadiin bahan perbandingan."
"Iyaa sih, tapi, Tha... Kalau waktu mengizinkan... Izinin gue buat perjuangin lo sekali lagi, Tha... Buat perbaiki semuanya. Bolehh ya?"
"Apasihh Dy, kok jadi begini? Sekarang yang harus kamu jaga dan kamu perjuangkan itu ya... perasaan pacar kamu. Bukan lagi aku."
Ardy sibuk berperang dengan isi kepala dan juga hatinya. Dia mencintai perempuannya, namun di sisi lain ia masih merasa setengah dari jiwanya tertinggal di Agatha. Perempuan sederhana yang pernah bertengger begitu lama di hatinya.
"Aku mau pulang ajaa. Aku gak bisa kalau pembahasannya jadi ke sana. Aku pikir ini terakhir kalinya kita ketemu sebelum aku pindah ke luar kota...."
"Sebelum masing-masing dari kita melanjutkan perjalanan masing-masing. Kamu harus bisa move on dari hubungan yang kita kemarin. Jangan cari aku atau kita yang dulu di orang baru. Kita udah selesai, Dy."
"Gue anter ya, Tha.... "
"Aku bisa naik ojol kok. "
"Tha... plisss. Biarin perasaan kangen gue ke lo habis di malam ini juga. Gue pengen lupain lo gitu aja, Tha. Tapi sayangnya gak semudah itu buat gue lupain kenangan kita yang gak bisa gue itung itu."
"Lima tahun, Tha. Gue tersiksa dengan rasa bersalah gue ke lo. Lima tahun, Tha... gue selalu cari orang baru dan dengan bodohnya gue berpikir dengan gue cari yang baru gue bisa lebih mudah lupain lo. Tapi ternyata lo selalu ada di mana-mana, Tha, " Ardy mengenggam tangan Agatha dengan lembut.
"Lo selalu jadi orang pertama yang gue pikirin ketika gue bangun tidur; lo selalu jadi orang terakhir yang gue pikirin sebelum gue tidur; lo selalu muncul dalam berbagai bentuk kenangan yang pulang ke pelukan gue, Tha."
"Lima tahun, Tha... gue yakinin diri gue kalo gue bisa maafin diri gue sendiri dan ikhlasin hubungan kita yang udah kandas tapi ternyata gak semudah yang gue mau, Tha."
"Lo selalu punya ruang khusus di lubuk hati gue, biarpun lo denger kabar gue deket sama banyak perempuan di luar sana. " Ardy menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sangat berat.
"Tha... gue gak baik-baik aja, Tha...."
"Gue menyibukkan diri gue dengan berbagai kegiatan tapi lagi-lagi gue inget lo. Gue hancur, Tha... tapi gue selalu berusaha untuk keliatan baik-baik aja. " bulir air jernih yang sejak tadi tertahan di pelupuk mata Ardy; kini mengalir dengan bebas membasahi pipinya.
"Gue gak bisa bohong kalau gue masih peduli dan sayang sama lo, Tha. Gue tau gue jahat dan lo berhak benci sama gue, Tha."
"Tapi... biarin gue bayar semua kesalahan gue di masa lalu itu."
Agatha menarik tangannya dengan lembut. "Gak ada yang perlu dibayar, Dy. Aku udah maafin semua yang udah berlalu. Kita jalani kehidupan masing-masing ya. Jangan ada aku di kehidupan kamu lagi. Kamu harus bisa ngehargain pasangan kamu. Udah cukup itu aja. Kamu gak perlu mohon-mohon begini ke aku karena aku udah ikhlasin semuanya,"
"Btw, ojol aku udah di depan. Aku pulang ya... kamu nanti pulangnya hati-hati. Jangan ngebut!" Agatha menepuk punggung Ardy dengan lembut. "Udah ya... jangan nangis gini...." Agatha mengusap bulir air jernih yang membasahi pipi laki-laki yang dulu pernah begitu ia sayangi itu.
"Thaaa? Boleh gue izin meluk lo, Tha? Gue gak tau suatu saat takdir mengizinkan kita ketemu lagi atau nggak."
"Gak boleh. Tos an aja yaaa... Ini untuk yang pertama kali setelah lima tahun kita gak ketemu dan yang... sepertinya terakhir kalinya kita ketemu sebelum aku pindah ke luar kota."
"Mmm. Berattt bangett, Tha. Kita gak bisa kayak dulu lagi ya?"
"Nggak bisa, Dy. Kita udah selesai di malam di mana kamu nyia-nyiain kesempatan terakhir yang aku kasih dari banyaknya kesempatan yang udah-udah," Agatha tersenyum dengan begitu lembut.
"Yaudah, Tha. Gue berusaha terima ini. Maaf masih nyari sosok lo di orang lain, makasih banyak ya, Thaa. Makasih udah ngajarin banyak hal buat gue. Makasih udah singgah di hidup gue dan ngasih banyak warna di hidup gue."
"Sama-sama, udah jangan sedih-sedih jangan nangis-nangis lagi. Jaketnya dipake ya udah malem nanti masuk angin. Oiaa... ini uang buat bayar makanan aku tadi. Terima kasih juga waktunya ya. Aku tunggu undangan resmi kalian nanti ya.... "
"Tha... lo ini bisa gak sih berhenti buat gue bingung?"
Agatha tersenyum sembari memasangkan helm ojol di kepalanya. Memberi gestur lambaian tangan kepada Ardy sebagai simbol perpisahan keduanya dan sebagai langkah awal keduanya memulai kehidupan baru dengan tokoh utamanya masing-masing.



be my wife
BalasHapus