Kadang Makna Rumah Justru Ada di Tempat Lain.
"Ra... coba deh nengok ke sini," Bimo bersiap memotret Kiara dengan kamera analognya. "Senyum dikit dongg, Raaa. " Kiara mengulas senyuman tipis ke arah kamera analog tersebut.
"Mau liat hasilnya gak, Ra?"
"Nggak." Kiara mengalihkan pandangannya dan kembali menatap lapangan sekolah yang mulai sepi.
Helaan napas yang begitu berat dari Kiara membuat Bimo cukup mengerti.
"Gapapaaa... Kalau masih mau lama-lama di sini. Orang ganteng di samping lo ini siap nemenin lo kok, Ra." Bimo menaik-naikkan kedua alisnya yang dibalas dengan satu lirikan tajam dari Kiara. "Mmmm... Kebetulan gue masih pengen hidup, Ra. Jangan dulu diterkam ya."
"BISA DIEM GAK!!"
Jujur. Ini tatapan Kiara yang paling tajam; yang pernah Bimo temui.
Sore itu, perasaan hampa memenuhi hati dan pikiran seorang Kiara. Ia tidak peduli Bimo akan terus menemaninya di sana atau memilih untuk pulang meninggalkannya sendirian.
Setengah jam sudah Kiara diam tidak bergeming, dan Bimo masih duduk manis di sampingnya. Mengayun-ayunkan kedua kakinya bergantian dengan sabarnya.
"Ngapain sih masih di sini?" Kiara menatap intens kedua mata Bimo.
"Lagi istirahat nih."
"Istirahat tuh di rumah." Kiara benar-benar kesal dengan Bimo. Ia tidak berharap ditemani. Hanya ingin sendiri.
"Gak juga, Raa. Beberapa rumah bikin seseorang jadi gak nyaman buat istirahat di rumah."
Kiara terdiam. Jujur ada banyak hal yang sedang ia khawatirkan tentang rumah.
Tentang kepulangan, tentang makna pulang yang selama ini ia cari.
Pipinya mulai memanas. Namun ia tidak ingin menangis di sini. Terlebih lagi ada Bimo di sampingnya.
"Istirahat dulu, Raaa... Lo bisa bebas jadi seseorang yang lain saat ini juga di depan gue."
"Apaan sih, Bim. Gue gak se-cengeng itu ya. Gak usah sok peduli sama gue. Gue gak minta lo kasihan sama gue. Gue cuma lagi pengen sendiri aja."
"Kalau lo yang biasanya kuat banget, saat ini lo boleh kok jadi seseorang yang berbeda dari biasanya,"
`Tempat istirahat gak selalu ada di dalam sebuah bangunan yang biasa kita sebut rumah.`
"Karena rumah bisa menjelma jadi banyak wujud. Entah seseorang, entah sebuah barang, lagu-lagu atau bisa jadi sebuah bangunan juga; tapi bukan bangunan rumah yang biasa kita tempati; ini bangunannya justru ada di tempat lain."
"Tenang aja, Ra. Gue ada di sini...Gue gak kemana-mana. Lo boleh jadi siapa pun di hadapan gue. Kiara yang berbeda dari yang sering orang lain liat. "
Kiara yang sejak tadi menatap awan-awan yang mulai bergerombol untuk menyembunyikan tangisnya; kini bulir air mata tersebut lolos dari sudut matanya.
Sore ini, di hadapan seorang Bimo, Kiara menjadi seseorang yang lain. Kiara yang tidak sekuat biasanya; Kiara yang tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja; Kiara yang boleh menangis; Kiara yang boleh untuk jadi Kiara yang berbeda.



Komentar
Posting Komentar