Robot Hidup yang Lucu
Menginjak fase dewasa tanpa tahu apa-apa.
Kulihat orang-orang di sekitar menjadi lebih pendiam saat tiba di sana.
Apakah semua orang dewasa seperti itu?
Mereka terlihat seperti robot hidup.
Bangun; bernapas; bekerja; pulang; lalu beristirahat.
Aku tidak mengerti, apakah tujuan mereka hidup hanya untuk bangun dan bernapas?
Sudahkah kamu menikmati hidupmu hari ini?
Kulihat mereka seperti robot hidup.
Menjadi munafik dengan perasaannya sendiri.
Lupa kalau manusia tetaplah manusia;
Yang dibekali perasaan dan segala emosi di dalamnya.
Kesedihan itu; kekecewaan itu; keputus-asaan itu dan segala perasaan yang hadir mereka bungkam rapat-rapat.
"Ya... mau bagaimana lagi? Menjadi dewasa adalah pilihan untuk terus menjadi kuat. Aku tidak ingin menjadi manusia lemah yang cengeng akan hidup yang begitu keras dan kejam ini." tukasnya.
Dari sekian banyak manusia. Terima kasih karena masih ingin melanjutkan hidup sampai detik ini. Memilih untuk bangun dan berjuang kembali, disaat yang lainnya memilih melarikan diri pada kem*tian.
Nyatanya menjadi dewasa adalah tentang bagaimana kita memilih dan bertanggung jawab akan setiap pilihan hidup yang kita tetapkan.
Bagaimana kita harus lebih berpikir matang akan apa yang akan kita sampaikan kepada orang lain.
Bagaimana kita harus lebih berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan.
Tetapi, apakah menjadi dewasa
se-rumit ini?
Tidak lelahkah kamu terus bersandiwara seumur hidupmu?
Kamu katakan kepada mereka bahwa kamu manusia kuat.
Andai saja tembok di kamarmu bisa menyangkal jawabanmu itu.
Mereka tidak akan pernah berpikir bagaimana keadaan hidupmu yang sebenarnya.
Seberapa sering kamu menangkis segala perasaan sedih dan kecewamu itu?
Seberapa sering kau menyembunyikan segala emosi yang semakin hari rasanya semakin menyesakkan dadamu itu?
Ah, mereka tidak akan tahu; dan untuk apa juga mengetahuinya.
Permasalahan hidup yang rasanya semakin hari semakin kompleks.
`Akan datang hari di mana kamu tidak dapat mengandalkan siapapun.Tidak ada siapa-siapaHanya ada kamu dan Tuhan serta keyakinan untuk terus melanjutkan hidup.`
Aku hanya lelah.
Tetapi, pantaskah aku mengeluh?
Pantaskah aku merasa kelelahan?
Kulihat mereka semua bahagia.
Apakah hanya aku yang merasa seperti ini?
Apakah mereka sama munafiknya seperti aku?
Aku hanya ingin menjalankan tugasku sebagai manusia yang tidak hanya bangun; bernapas; bekerja lalu beristirahat.
Aku ingin menjadi manusia yang menikmati hidupku.
Menerima setiap jengkal emosi yang hadir dengan bijak.


Komentar
Posting Komentar