Sudah Sejauh Mana Kita Bersyukur?
"Beberapa orang terpaksa harus menekuni sebuah pekerjaan yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan. Mereka melakukannya bukan karena keinginan melainkan karena tidak ada pilihan lain selain itu.
Keadaan menuntut mereka untuk memilih jalan yang sebenarnya tidak ingin mereka jalani. Akan tetapi mereka sadar bahwa hidup harus terus dihidupi dan realita juga tidak selalu sesuai dengan ekspetasi. Hidup membawa mereka pada persoalan-persoalan rumit lainnya. Namun, mereka percaya bahwa Allah SWT bersama mereka."
Setiap manusia memiliki mimpi dan keinginan untuk menjadi seseorang yang kelak bisa mensejahterakan keluarganya. Namun terkadang... takdir berkata lain. Beberapa mimpi dan keinginan terpaksa harus dikubur dalam-dalam.
"Bapak mau kerja di tempat yang layak, Nak. Yang gak cuma cukup buat beli beras tapi bisa buat kebutuhan kalian yang lainnya. Tapi teknologi semakin canggih dan bapak cuma bisa berharap sama Allah SWT. Semoga besok bapak masih dikasih umur dan dikasih rezeki untuk mencukupi kebutuhan kalian."
Hidup rasanya kian sulit.
Beberapa kali lelah datang menghampiri, beberapa kali sakit ringan mulai menyerang
Beberapa kali rasa putus asa dan keinginan untuk menyerah datang menghampiri.
Ada satu titik di dalam hidup kedua orang tua kita,dimana sesekali rasa rindu ingin kembali menjadi anak kecil datang menghampiri mereka.
Mereka juga sama seperti kita,
yang sesekali merasa; menjadi dewasa adalah fase hidup yang setiap hari rasanya semakin terasa berat.
Di penghujung sore mereka duduk di depan teras rumah, menatap kosong ke depan dengan segala angan-angan dan isi kepala yang begitu ramai.
Semakin tua renta, menunggu berapa lama lagi waktu yang diberikan Allah Swt. akan sampai pada waktu selesai.
Beberapa orang memiliki alur hidup yang begitu terjal.
Sudahkah kita bersyukur?
Atas nikmat sehat ini, atas nikmat mudahnya kita mendapat pekerjaan yang layak ini? atas nikmat rezeki bertemu dengan orang-orang baik di hari ini? atas segala nikmat besar yang terkadang tidak kita anggap ada ini?
Beberapa orang tidak beruntung memiliki hubungan keluarga, teman, percintaan, karir dan segala hal lainnya, tapi mereka cukup beruntung karena memiliki kelapangan hati yang begitu luas dalam menerima dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur.
Kita terlalu asyik dengan kehidupan kita saat ini.
Sibuk mengejar banyak hal yang mungkin tidak begitu bermanfaat.
Cobalah sejenak mengamati raut wajah kedua orang tuamu.
Umurnya kian menua, semakin hari semakin berkurang.
Rambutnya kian memutih, kerutan-kerutan halus mulai nampak.
Semakin rawan dengan masuk angin, semakin banyak pantangan makanannya.
Mereka bahkan tidak lagi se-kuat dulu.
Tidak selamanya akan terus menjaga dan merawatmu; buah hati kesayangannya yang mungkin beberapa dari mereka tidak pernah mengucapkan kalimat itu secara langsung.
Tapi, tidakkah kamu melihatnya? sejauh ini mereka selalu mengusahakan yang terbaik untukmu meskipun di matamu itu semua tidak pernah cukup?
Mereka yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk kamu yang kerap kali berpikir, "Mereka gak sayang sama aku."
Malu sekali rasanya, terkadang sebagai anak kita kerap kali buta akan segala pengorbanan kedua orang tua kita yang begitu besar.
Bu, Maaf yaa... anakmu belum berhasil.
Anakmu masih sering gagal.
Anakmu masih sering menangis dan kalah dengan hidupnya sendiri.
Anakmu ini sering merasa paling terluka dan lelah padahal Ibu jauh lebih lelah dari hal kecil yang aku keluhkan.
Pak, maaf yaa... anakmu memilih jalan yang berbeda dari kemauan Bapak.
Maaf kalau anakmu se-cengeng itu.
Maaf kalau anakmu tidak se-tegar hati Bapak.
Maaf untuk segala hal yang aku rasa kurang padahal Bapak berusaha keras untuk mencukupinya.
Pak...Bu...
Maaf anakmu belum se-dewasa itu.
Maaf masih sering membuat marah juga kecewa, yang keesokan harinya masih diperbolehkan memakan nasi dan lauk buatan Ibu di rumah seperti tidak ada rasa bersalahnya.
Tidak tahu diri sekali memang.
Sekali lagi maaf... untuk apa-apa yang masih dalam proses perjuangan dan belum membuahkan hasil.
"Terima kasih untuk rumah yang akan selalu menerima segala kepulanganku. Karena ternyata, aku tidak pernah se-tegar itu untuk melalui semuanya sendirian."


Keren lanjutKn
BalasHapus