Selamat Berbahagia, Ya?



Aku mengambil napas dengan begitu dalam, kemudian kuhembuskan dengan begitu berat dan ikhlas secara bersamaan. Mencoba meresapi lirik demi lirik lagu Secondhand Serenade yang berjudul Good Bye untuk kesekian kalinya. 


Ingatan pahit datang kembali, tentang bagaimana di malam itu sang puan berpamitan untuk memulai hidup barunya dengan laki-laki yang jauh lebih siap untuk berjalan beriringan dengannya. Laki-laki yang kulihat bisa membuat hidup sang puan terjamin dari segala aspek. 


Segala hal tentang dia memang manis sekali. Senyumnya;  suaranya; cara dia tertawa; cara dia berpura-pura marah; cara dia bertingkah layaknya anak kecil; cara dia menegurku, semuanya. Dia yang kerap kali membuatku khawatir, tetapi dia juga yang menyakinkanku bahwa dia selalu bisa mengatasinya sendiri; dia wanita yang tangguh. Dia selalu percaya dan berusaha membuatku percaya bahwa aku dan dia akan selalu baik-baik saja di setiap kejadian buruk yang menimpa. Di setiap pundakku terasa berat dan langkahku mulai melamban, dia adalah orang pertama yang akan berbisik di telingaku, "It's okayy, semua akan baik-baik saja. I know, u can do it!"


Malam itu juga dia menyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Rasanya terlalu munafik kalau aku bilang aku masih akan baik-baik saja setelah ini. Kupikir akan menjadi kebohongan yang terdengar begitu manis dan siapa juga yang akan percaya bahwa setelah ini aku akan baik-baik saja? 


Malam itu, aku mengantarkannya pulang ke rumah yang rasanya sudah seperti rumah keduaku.

Dia melepaskan helm yang kubelikan untuknya, dan memberikannya kepadaku.

Padahal, di hari-hari biasanya helm itu menginap dengan betah di rumahnya.


"Kok dikasih ke aku? Emang kamu mau ke mana? Pindah? " tanyaku dengan raut wajah yang sedikit bingung. 


Dia tersenyum. "Iyaa, aku mau pindah."


Semilir angin dingin di malam hari mengisi kebingungan demi kebingungan di kepalaku. "HAHHH? Pindah ke mana? Tumben kamu gak cerita. Biasanya apapun kamu ceritain ke aku?"


Dia kembali tersenyum. Senyum yang membuat keningku berkerut tidak seperti biasanya. "Aku mau pindah ke tempat baru. Ke rumah baru."


"Lohh... Terus rumah yang ini gimana?"

"Yaa... Aku tinggal. Masa dibawa-bawa... Nanti berat dongg." Dia tertawa kecil sembari memukul lenganku dengan pelan. 


"Yeuuu.. Barangnya banyak banget lohh ini. Pasti repot banget pindah ke rumah barunya. Kalau kamu ngizinin, nanti aku bantu proses pindahannya bolehh? Tiba-tiba banget mau pindahan dehh kamu. Kenapaa?"


Entah kalimat mana yang menyakitinya, sehingga setelah mendengar perkataanku tersebut lengkungan manis di bibirnya berubah. 


"Lohh.. kenapaa? Ada yang salah sama perkataan akuu yaa? Yang manaaa?" Kuraih tangannya dengan lembut.


"Aku gak cuma pindah ke rumah baru... Aku juga pindah ke tokoh yang baru. Bukan kamu lagi." 



Kutelaah kata demi kata yang dia ucapkan. "Bentar-bentarr dehh, maksud kamu gimana sih?"


"Papa gak ngerestuin kita, kamu tau itu 'kan?" 

"Iyaa...Teruss?"

"Yaa. Aku gak bisa lanjutin ini sama kamuu."

"Tapi kan... Sejauh ini kita berdua juga udah berusaha buat bertahan dan buktiin kann? Kamu selalu ngeyakinin aku kalau perjuangan aku tinggal sedikit lagi. Terus kenapa jadi ginii?"

"Yaa... Aku juga maunya sama kamu. Tapi kita gak bisa."


Aku diam. Tidak sanggup rasanya untuk banyak bertanya, tetapi aku butuh jawaban. Maksudku, sebuah penjelasan yang melegakanku. Yang jawabannya bukan tentang perpisahan. 


"Besok aku pindah ke rumah baru, ke tempat baru. Barang-barangnya emang banyak dan bingung gimana bawanya ke tempat baru tapi ini udah jadi pilihan Papa. Minggu pertama bulan besok nanti, aku nikah. Bukan sama kamu."


Dadaku rasanya seperti kesulitan bernapas. 


"Sebentar... Sebentar... Aku bingung mau bersikap kayak gimana. Kamu setuju kita selesai sampai di sini setelah semua yang udah kita perjuangin bersama? Aku gak abis pikir ajaa. Semua yang kamu jalanin ini karena pilihan Papa kah? Minggu pertama bulan depan nanti kamu memulai hidup baru kamu dengan orang lain dan itu juga pilihan Papa?"


Dia hanya diam mengalihkan pandangannya dariku. 


"Kamu yakin sama pilihan kamu ini?" tanyaku sembari terus mencoba untuk menguatkan perasaanku. 

"Yakin."

"Karena kamu yang yakin, atau karena Papa yang yakin?"

"Aku."

"Hahhhh? Terus... Di hari-hari kemarin, di bulan-bulan kemarin, di tahun-tahun kemarin yang kita lewati sama-sama itu karena kamu yang gak yakin atau karena Papa yang gak yakin?"


Dia membuang napasnya dengan kasar. 


"Enggaa, aku tuh nanya. Di setiap hari yang kita lalui sama-sama itu, aku se-enggak bermakna itu yaa di hati kamu?"


Kulihat matanya mulai berkaca-kaca lagi.  Bohong jika aku tidak merasa sakit melihat realita yang ada. Tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana rasanya. 


"Gak ada hari di mana aku nyesel kenal kamu. Setiap harinya aku bersyukur kok punya kamu. Tetapi, kadang kan jalannya emang gak selalu sesuai sama apa yang kita mau'kannn?" 


Sialannn... Dia memberiku tatapan yang selalu aku suka. Mata itu. Mata yang selalu bisa membuatku lupa harus melakukan apa, harus berkata apalagi dan harus bersikap seperti apa.  


"Aku berusaha yakin sama pilihan Papa dan berusaha menyakinkan perasaan aku untuk hal ini. Terima kasih kamu udah berusaha ngeyakinin Papa sampai sejauh ini. Terima kasih yang gak terhitung dari aku buat kamu,"


"Aku mohon banget ke kamuu. Tolong ikhlasin kita yaa...." sambungnya. 


Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Mengelus dengan lembut kulit wajahku yang sudah berminyak setelah seharian berada di luar ruangan. 


Aku mengalihkan tangannya dari wajahku, tidak juga berusaha untuk menggenggam tangannya. Aliran darah di pembuluh darahku rasanya berhenti mengalir saat setiap mendengar suaranya, tubuhku terasa lemas dan putus asa. Aku menunggu-nunggu kapan waktunya aku akan tersadar kemudian terbangun dari tidurku dan merasa lega karena menyadari bahwa semua ini hanyalah mimpi. 


"Udah malam, aku mau beres-beres barang yang mau aku bawa ke tempat baru. Kamu jaga kesehatan yaa, aku tau ini sakit bangett buat kita. Tetapi aku mau kamu gak berpikir bahwa kamu gak berharga. Kamu berharga banget buat aku, tetapi kita emang gak bisa berlanjut. Kita sampai di sini aja yaa....Maafin akuu."


Aku tidak ingin menatap kedua manik matanya itu. Aku takut hatiku luluh lagi. Aku benar-benar lelaki payah dan pada akhirnya aku kembali kalah. Fase mengikhlaskan harus kembali aku telan bulat-bulat. 


"Ini undangan buat kamu. Aku menghargai pilihan kamu nantinya. Tetapi aku merasa senang kalau kamu mau datangg."


Aku menerima undangan tersebut. Dengan rasa sesak yang begitu memenuhi dadaku, namun aku tetap berusaha untuk tetap tegar di hadapannya. 


Aku terdiam begitu lama. Berusaha mencerna semua cerita yang terjadi sangat cepat ini dengan sikap yang tetap tenang.  


Dia masih memerhatikan respon seperti apa yang akan aku berikan. Aku menganggukkan kepalaku tanda mengerti. Membuang nafasku dengan hembusan yang begitu berat. 


"Semoga bahagia yaa sama pilihan Papa dan pilihan kamu juga. Pamit yaa. Aku juga mau beresin barang-barang beserta kenangan yang aku dapetin dari rumah lama."


Aku menyalakan mesin motorku. Menyangkutkan helmnya di gantungan motor. 


"Kamu mau pindah rumah juga?" Tanyanya. 


"Iyaa. Gak baik bertamu di rumah yang udah gak berpenghuni. Kalau pemiliknya udah pindah ke rumah baru masa aku diem aja di rumah lama... Mau ngapain? Nungguin kesurupan?" 


Terdengar lucu.  Tetapi sebenarnya hatiku ingin menangis saat itu juga. 


Kulihat wajahnya kesal. Dia pikir aku sedang bercanda? Tidak. 


"Maksudnya... Kalau kamu pindah ke rumah baru dengan tokoh baru. Terus ngapain aku masih nungguin kamu sendiri di sini? Minggu pertama bulan depan nanti kamu nikah sama orang lain, terus ngapain aku masih di sini?"


Aku memandang ke arah lain. 

"Selamat berbahagia. Aku pamit."


Aku memasangkan helm yang sempat aku lepas. Bersiap menginjak pedal gas motor tuaku. 


"Hati-hati di jalan.... Jangan ngebut-ngebutt! Salam buat keluarga di rumah yaaa.... Maafffff...." 


Dia melambaikan tangannya seiring laju motor tuaku yang perlahan menjauh dari pekarangan rumah dan juga menjauh dari kehidupannya. 


Malam itu seiring laju motor yang kian menjauh dari rumahnya, aku mengurangi kecepatan motorku. Membiarkan bulir air hangat membasahi pipi laki-laki gagah dengan hati layaknya hello kitty. 

Perasaan sesak semakin menjalar di dalam dadaku. Segala memori tentangnya terus berputar dengan sempurna. Segala pertanyaan di kepalaku yang tidak juga menemukan jawabannya. 

Dia menyakitkan, tapi aku menyayanginya. 

Klise sekali. 


Sesampainya di rumah, kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. 

Meraih handphone ku di atas nakas. 

Kamprett. 

Wajah dan senyum manis itu terpampang sangat jelas di walpaper handphone ku.

Senyum semanis itu dengan luka yang se-sakit itu. 




Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer