Penawar Letihku
Surakarta, 27 November 2018
Malam ini, dia menjemputku dengan motor 'butut'nya yang ia beri nama, "Sugeng"
Katanya sih gabungan dari kata, 'Sugih' (kaya raya) dan 'Langgeng" (kekal; abadi; tidak ada habisnya.
'Sugeng' disebut motor butut oleh pemiliknya sendiri,
Bukan tanpa sebab.
Motor tersebut sangat jauh dari kata mewah dan keren. Berbanding terbalik dengan namanya.
Footstepnya mleyot sebelah, dipertahankan habis-habisan dengan gelang karet berwarna kuning pucat.
Kaca spion motornya tersisa satu. Yang satunya lagi entahlah hilang kemana, hanya tersisa gagangnya saja.
Jok motornya juga sudah koyak sana-sini; bekas cakaran kucing-kucing kesayangannya.
Uniknya. Apapun itu, jika bersamanya, semua jadi terasa jauh lebih menyenangkan.
Dia pandai mengubah hal-hal yang malang darinya menjadi lucu untuk ditertawakan bersama.
Beberapa kali dia meminta maaf karena dia belum sanggup membeli motor yang lebih bagus dan sesuai standar berkendara di jalanan.
Meminta maaf atas ketidaknyamanan yang aku rasakan sepanjang perjalanan setiap kali kita bertemu.
Meminta maaf karena setiap memasuki musim penghujan aku harus memakai jas hujan kresek transparan yang jika dipakai jadi mengembang kesana-kemari.
Jika langit menjatuhkan rintik hujannya dengan malu-malu; seketika ia sibuk sekali mencarikan kantong plastik kecil untuk menutupi kepalaku. Katanya, itu upaya agar kepalaku tidak pusing.
Kami pernah terjebak hujan ketika sama-sama pergi menggunakan sepatu converse. Lucunya, sepatuku tersebut juga tidak luput dibungkus rapi dengan kantong plastik berwarna hitam bekas jajanan yang ia beli di warung madura. Sedangkan sepatunya dibiarkan basah dan kotor begitu saja.
Hal-hal apa adanya tapi juga semaksimal mungkin dia usahakan; membuatnya terasa begitu menyenangkan ketika dimiliki.
Jakarta, 17 September 2020
Akhir-akhir ini rasanya hubungan ini kian rumit.
Atas apa-apa yang tidak terselesaikan dengan baik yang memicu pertengkaran menjadi terlalu sering.
Hal-hal sepele yang berubah menjadi masalah besar.
Komunikasi semakin tidak jelas arahnya ke mana.
Maumu dan mauku rasanya tidak lagi sama.
Kami mulai tak se-paham dan masing-masing ingin dirinya menang.
Dia yang takut untuk mengungkapkan perasaanya; begitu juga dengan aku yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengannya.
Aku yang takut untuk bertanya lebih jauh tentangnya dan dia yang merasa takut ceritanya akan membebaniku.
Kesalahpahaman membuat kami berpikir bahwa kami tidak lagi cocok dan hubungan ini sepatutnya diakhiri.
Aku yang merasa dia berubah.
Dia merasa aku berbeda dari yang dulu.
Mungkin kami hanya butuh ruang.
Karena semakin hari rasanya obrolan kami berdua hanya sebatas menyampaikan.
Tanpa berusaha untuk saling memahami.
Tanpa berusaha untuk menyatukannya kembali.
Tanpa berusaha untuk meredam ego kami masing-masing, lagi.
Kami sering bertengkar tentang siapa yang paling ingin didengarkan.
Persoalan-persoalan kecil membuat kami mulai kelelahan untuk menyelesaikannya.
Dia yang merasa kesal dengan sikapku begitu juga dengan aku yang jauh lebih kesal dengan sikapnya.
Aku yang kadang membencinya, kadang diapun sama sepertiku.
Ternyata, komunikasi tidak hanya sebatas saling menyampaikan dan mendengarkan. Tetapi juga tentang bagaimana kita berusaha untuk terus belajar memahami satu sama lain.
Memahami arti diamnya, memahami arti cerewetku.
Karena terkadang ada sesuatu yang tidak pernah bisa disampaikan lewat kata, perlu dimaknai melalui perasaan.
Melalui tatapan, melalui jeda suara, melalui helaan napas, melalui mata yang sesekali terpejam lebih lama dari biasanya.
Semakin jauh kami berjalan, semakin utuh hubungan yang kami rajut.
Semoga, inginku masih jadi inginmu.
Semoga, inginmu juga masih jadi inginku,
Bukan karena sudah terjebak di hubungan yang terbilang lama, tetapi karena sadar bahwa perasaan ini masih milik kami berdua.



Komentar
Posting Komentar