Pada Persimpangan Jalan yang Lain
`Terkadang kita perlu mengurangi ritme hidup untuk menemukan makna dari hidup itu sendiri.`
Nama gue Tere, gue bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta yang berfokus pada bidang pariwisata. Di perusahaan ini gue mengambil posisi sebagai Divisi Penjualan dan Distribusi.
Siang ini gue ada jadwal meeting dengan vlogger yang dipercaya untuk menggarap proyek perusahaan tempat gue bekerja. Ditemani Mba Nia (atasan gue) gue menghadap Pak Dion (Kepala Perusahaan) di ruangan kerja Pak Dion.
Sebenarnya gue gak ada
bakat di bidang ini, tapi karena gue menyampaikan pendapat gue secara gak
sengaja waktu Mba Nia ngobrol sama rekan kerjanya, akhirnya Mba Nia menunjuk
gue untuk ikut andil dalam proyek nya ini. Katanya sih, ide gue cukup
cemerlang dan menarik.
Meeting berlangsung dengan cukup cepat, hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit. "Baik, Saya percayakan proyek ini kepada Tere dan Akbar ya. Tere kamu sanggup ‘kan?”
Mba Nia
reflek menepuk punggung gue, “Eh iya gimana, Pak?”
“Kamu
sanggup ‘kan? Dipasangkan sama Akbar?”
“Wahh gak perlu ditanya juga udah pasti
sanggup, Pak. Gak mungkin dia nolak dipasangkan sama cowo se-ganteng saya sih,
Pak.” Akbar menimpali pertanyaan Pak Dion sambil melirik gue dengan pedenya.
“Ah iya gak
apa-apa. Sama-sama masih single juga ‘kan? Apaa sebelumnyaa... Udah saling kenal? Kok
Tere keliatan grogi gitu?”
“Hehee, mungkin Tere takjub sama kegantengan saya, Pak. Terakhir ketemu pas SMA, kami satu kelas dulu, Pak. Terus sekarang ketemu lagi sayanya udah tambah
ganteng gitu mungkin, Pak.” Akbar tersenyum jahil. Pak Dion sudah pasti mengeluarkan template ketawa karirnya itu.
“Jika Pak
Dion percaya kepada saya, saya akan memaksimalkan kinerja saya dalam menggarap
proyek perusahaan dan saya menyanggupi, Pak.” Jawab gue.
“Tenang aja, Pak. Saya juga sangat sanggup, Pak. Saya akan mengusung tema yang lebih natural dan santai untuk
menarik klien, asall... Gak terlalu kaku kan ya, Pak?” Akbar melirik gue sembari
menahan untuk tidak tertawa. Gue menatapnya dengan tatapan tajam. Rese!
“Bagaimana
cara kalian menarik klien itu saya serahkan kepada kalian berdua. Karena saya
rasa kalian pasti bisa memunculkan ide yang segar dan otentik. Dilihat dari
karakter kalian yang bertolak belakang, saya percaya proyek ini akan
berhasil.”
Meeting ditutup dengan kami yang saling berjabat tangan tanda kesepakatan bersama.
Interaksi
gue dan Akbar semakin intens, setiap hari kami menyempatkan waktu untuk
bertukar pikiran. Dia selalu bertanya kapan kita akan ke luar untuk mencari
spot menarik untuk diliput. Namun, seringkali kami berdebat karena prinsip kami
bekerja sangat bertolak belakang. Gue yang selalu sistematis, dan dia yang mengalir seperti air.
Hari ini
rasanya sedikit melelahkan buat gue. Gue memandangi notes yang gue tempel di
dinding meja kerja gue. Deretan wishlist yang harus segera gue wujudkan dalam
tiga tahun ke depan. Melanjutkan S-2 di Luar Negeri dengan beasiswa, membangun rumah sendiri,
umroh, kerja di perusahaan impian gue, dan masih banyak impian lain. Gue
dikenal sebagai cewe workaholic yang sebagian besar waktu gue habiskan untuk kerja. Karena tuntutan kerja yang serba cepat, gue terbiasa untuk
kerja cerdas menyelesaikan segala sesuatu secara terjadwal dan selesai dengan sempurna.
Di tengah kalutnya pikiran gue, dering telepon dari Akbar menyadarkan gue dari overthinking gue.
"Halo, Re. Sorry ganggu lo malem-malem. Besok kita ngeliput ke lokasi yaa, gue ada rekomendasi beberapa tempat yang bagus, Re."
"Iyaa, oke."
"Oke. Eh, btw... tumben, Re. Lo belum tidur jam segini. Tere yang dulu gue kenal kan anaknya selalu terjadwal."
"Iya... Ini masih ada kerjaan."
"Udah gak kaget ya liat kelakuan lo ini, tapi jangan terlalu diforsir, Re. Gue yakin lo selalu bisa kok. Dari SMA lo selalu perfeksionis tapi kesehatan lo juga tolong diperhatiin. Tenang aja Re. Doa mantan selalu menyertaimu kok." Barra tertawa dari seberang sana.
"Apa sih, Bar! "
"HHHAA, masih Tere yang dulu ini nih. Yaudah yaudah, Re. Gue beliin minuman cokelat kesukaan lo dari jaman kita masih pacaran mau yaa?"
"Gue mau istirahat. Thank you sebelumnya. Gue minta lo profesional, Bar. Kita komunikasi lagi itu cuma sebatas pekerjaan, gak perlu bahas kita yang dulu."
"Mmm... Oke. Tap-"
Gue mematikan telepon dari Akbar dan segera menyelesaikan pekerjaan gue.
Keesokan harinya, Gue dan Akbar mengunjungi lokasi yang Akbar maksud. Seperti yang sudah-sudah, kami kembali berdebat.
"Akbar, menurut gue lebih baik kita bikin schedule kita selama sebulan ini tiap harinya harus ngeliput hal apa aja. Gue rasa pekerjaan ini akan cepat terselesaikan dengan rapi, jelas dan gak terkesan buang-buang waktu."
"Kejadian di lapangan kan gak bisa diprediksi, Re. Gue rasa dengan kita seperti ini justru apa yang kita rekam terlihat lebih natural. Udah lah, Re. Santai aja, percaya deh sama gue."
"Tapi sampai kapan kita ngabisin waktu buat survei terus? Sekarang kita udah dapet lokasi yang cocok tapi gue liat apa yang lo rekam itu gak ada intinya. Gue gak tau lo fokusnya sama hal apa, Bar."
"Justru itu seninya, Re. Sesuatu yang gak ketebak dan bisa berubah sewaktu-waktu itu terkesan lebih unik'kan?"
Gue menghela napas.
"Ada baiknya kita buat rencana biar apa yang kita kerjakan itu lebih terorganisir, Bar. Gak ada salahnya 'kan? Kita bisa susun siapa yang mau kita masukin ke vlog ini, lokasinya di mana aja? topik pembahasannya mengenai hal apa? jadi ketika kita dateng ke sini, kita tau selanjutnya apa yang harus kita siapkan dan apa yang harus kita lakukan, Bar."
"Udah kita langsung action nya aja, Re. Lo tenang aja, nanti juga selesai kok."
"Tapi gue masih ada kerjaan lain, Bar. Gue harap proyek ini bisa cepet selesai dengan hasil yang memuaskan."
"Satu-satu, Re. Lagian untuk mendapatkan hasil yang memuaskan juga dibutuhkan waktu yang gak cepet. Nikmatin aja kerjaan ini, itung-itung sambil liburan." seperti biasanya Akbar menjawabnya dengan enteng.
"Cukup ya, Bar! Gue gak punya banyak waktu buat main-main!"
"Siapa yang main-main sih, Re? Tetep kita kerjain tapi pelan-pelan, Re. Satu-satu."
Gue gak abis pikir. Kenapa di persimpangan hidup gue, gue harus ketemu sama cowo ini. Dan kembali dipertemukan dengan cowo ini di kebetulan yang lain.
"Oke, kalo prinsip lo masih begitu. Gue akan balik ke kantor dan gue akan bawa orang lain sebagai pengganti gue buat lo nyelesain proyek ini sesuai keinginan lo. Emang dari dulu prinsip kita gak pernah sejalan, seharusnya gue gak menyanggupi kerja sama; sama lo di proyek ini."
Gue meninggalkan Akbar begitu saja di sana.
Dengan sedikit drama kecil antara gue dan Akbar di depan toko jam tangan jadul di sudut perkotaan. Akbar merayu gue dengan dua cone es krim vanilla favorit kita semasa sekolah dulu.
Akbar mengajak gue pulang untuk menenangkan diri gue. Kami menikmati es krim tersebut di dalam mobilnya. Kebetulan sudah mendekati jam pulang kantor, jalanan yang semula lengang kini mulai padat. Akbar memutar musik kesukaan gue.
"Re, lo liat lampu merah itu?"
Gue mengangguk meng-iya-kan.
"Nahh... Dalam hidup tuh, Re. Kita gak cuma butuh lampu hijau tau, Re. Kita juga butuh lampu merah. Tauu gak kenapa?"
Gue memberikan gestur bertanya.
"Karena, kadang nih ya... kita, sebagai manusia tuh terlalu ingin mengejar banyak hal duniawi yang gak akan ada abisnya, Re. Demi semua hal itu kadang kita jadi gak punya waktu sama keluarga, sama Tuhan, bahkan sama diri kita sendiri. Sesekali kita tuh perlu berhenti, Re. Biar sadar."
"Sadar?"
"Iya, sadar. Sadar kalo kita bukan robot. Sadar sama sekitar dan sadar sama diri kita ini sebenarnya maunya apa dan sebagai bentuk apresiasi kita sama apa yang udah berhasil kita genggam. Gue tau, orang pada males sama lampu merah. Tapi gue suka-suka aja sih. Nikmati aja, disyukuri sambil ngurangin ritme hidup, Re. Anggep aja kita lagi kembali ke dalam diri kita ini setelah lama kita tinggal pergi buat menuhin banyak ekspetasi yang kadang realitanya juga gak sesuai sama ekspetasi sebelumnya. Yaa gitu deh, Re. Hidup emang lucu ya, Re? Kayak gue. Yaa gakk, Ree?"
Akbar tertawa sambil menaik-naikkan kedua alisnya dengan jahilnya, gue menabok wajahnya dan mulai mengerti maksud dari apa yang Akbar bicarakan.
Gue mulai mengerti, mungkin gue emang sengaja dipertemukan dengan Akbar pada persimpangan hidup yang lain bukan tanpa alasan. Akbar hadir untuk orang seperti gue yang maunya kerja terus, punya banyak mimpi sampai lupa sama diri sendiri dan sekitar. Akbar benar, kadang kita perlu ngurangin ritme hidup untuk mencari makna dari hidup itu sendiri.
Gue tersenyum di tengah kemacetan yang semakin ruwet itu. Menyadari bahwa Akbar yang rese dan terkesan gak punya banyak mimpi ini ternyata memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik dari gue. Dia mampu jadi lembut untuk gue yang keras kepala, dia mampu sabar untuk gue yang kalo mau A ya harus bisa dapetin A, dia mampu tetap tenang untuk gue yang sering khawatir tentang masa depan.
Ternyata, cara Akbar yang berbeda prinsip dengan gue justru mampu membuat gue sadar. Akbar gak seburuk itu dan gue juga gak sebaik itu. Akbar memahami gue dengan cara yang berbeda.
Penyesalan yang semula ada di dalam hati gue kini berubah menjadi rasa syukur.



Komentar
Posting Komentar