Laki-laki Tua dan Kostum Badutnya
Seorang badut masha duduk di bawah pohon setelah seharian berkelana mengadukan nasib.
...Laki-laki memang gak pandai menampakkan rasa sayangnya. Namun ia akan terus berusaha memutar otak dalam diam dengan isi kepalanya yang riuh memikirkan banyak hal....
Saya menghampirinya, berniat untuk berbagi minuman dan bertukar cerita. Ditemani segelas kopi sachet yang diseduh di gelas plastik, saya tersenyum dan duduk di sebelah badut masha itu.
"Ngopi dulu, Pak." sapaku sembari meletakkan dua gelas plastik berisi kopi hitam di samping badut tersebut.
Beliau lekas melepas kostum badut yang ada di kepalanya lalu tersenyum ke arah saya dengan kulit wajah yang sudah keriput tapi cukup berseri-seri. Ramah sekali.
"Terima kasih, Mas." sahut seorang laki-laki tua yang bekerja di balik kostum badut masha berwarna pink.
Kami mulai mengobrol dan bertukar cerita dari topik yang ringan hingga yang berat.
Singkat cerita, diketahui laki-laki tua itu mempunyai anak semata wayang; perempuan; masih kecil. Maklum, bapak tersebut menikah di umur yang lebih tua dari biasanya.
"Semua yang saya lakuin ini buat anak saya sih, Mas. Soalnya istri saya sudah meninggal tepat setelah istri saya melahirkan anak saya ini. Anak saya perempuan, umur 5 tahun-an, Mas. Lucuuu sekali." Bapak tersebut tersenyum sembari mengelap keringat yang bercucuran di dahinya yang sudah berkerut halus.
Saya akui saya belum bisa seperti bapak-bapak lain, Mas. Yang bisa menjamin kehidupan anaknya dengan sangat layak dari berbagai hal. Apalagi dari ekonomi.
Tetapi, untuk anak perempuan saya itu. Apapun akan saya usahakan. Saya mah belakangan aja, gampang. Yang terpenting itu anak saya.
Aku mengangguk mengiyakan. Sesekali ku seruput kembali kopiku yang sudah berubah hangat. Pandangan bapak tersebut masih lurus ke arah jalanan yang sedang tidak begitu ramai. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit serius.
Saya udah terbiasa hidup keras di jalanan, Mas. Yaa... saya gak mau aja gitu kalau anak saya besarnya nanti hidupnya kayak bapaknya ini. Pokoknya harus lebih baik gitu hheee.
Wajahnya kembali sumringah.
Sekolah ya saya sekolahin, Mas. Biar gak bodoh-bodoh banget kayak bapaknya ini; yang SD aja gak lulus, Mas. Waktu itu, jangankan untuk mikirin sekolah, Mas. Untuk makan aja susah banget. Jadi mau gak mau, saya pilih bekerja.
Saya kalo malem kerjanya beda lagi, Mas. Serabutan. Kadang jadi kuli panggul, kadang jadi tukang gali kubur, kadang dipercaya buat bersihin rumah orang kaya yang lama gak ditempatin terus mau ditempatin lagi gitu, Mas. Alhamdulillah, rezeki mah ada aja.
Niat saya biar anak saya tetap bisa sekolah, Mas. Bisa makan, seenggaknya cukup lah buat dia. Saya berharap anak saya kelak jadi orang yang berhasil.
"Nak, doakan bapak. Agar rezekinya lancar, nanti bisa beli apa saja yang kamu mau."
"Punya anak perempuan emang harus banyak bersabar, Mas. Saya sudah hafal betul menghadapi anak saya ini dan istri saya dulu. Kalau berhadapan sama yang namanya perempuan, mending ngalah aja, Mas. Wes itu, pesan dari saya, Mas. HHHHAAHA."
Bapak tersebut tertawa. Saya juga ikut tertawa.
"Inii... kopinya boleh saya minum, Mas?"
"Lhohh ya boleh dong, Pak. Masa iya kopinya buat sesajen pohon ini, Pak. Memang buat bapak, buat selingan ngobrol, Pak." saya kembali dibuat tertawa oleh bapak tersebut.
"Oalaa iya, terima kasih ya, Mas. Semoga rezekinya lancar."
"Aamiin aamiinn, Pak. Silakan diminum, Pak."
"Iyaa, Mas." bapak tersebut meneguk segelas kopi yang saya berikan. Menatap jalanan di tepian kota yang mulai kembali padat.
"Masnya ini masih lajang atau sudah menikah?"
"Alhamdulillah sudah menikah, Pak. Pengantin baru ini, Pak. Heheee." saya memberikan cengiran gigi berbehel saya.
"Wahh... Selamat ya, Mas. Masih pengantin baru, masih tahap penyesuaian yaa."
Saya mengangguk saja.
Sebagai laki-laki, terutama suami yang nanti jadi seorang bapak. Kita harus belajar untuk banyak memahami segala cuaca perempuan ya, Mas.
Memahami satu perempuan yang punya macam-macam kepribadian yang gak bisa ditebak, dan itulah istimewanya perempuan.
Biarpun kalau marah kita dinilai selalu salah, ada beberapa yang keras di ucapan tapi hatinya sebenarnya lembut. Mas.
Jadi, pernikahan itu, kalau dari saya itu yaa yang penting saling menurunkan ego.
Bapak tersebut menepuk bahuku, memberikan wejangan dari pengalaman hidup yang sudah bapak itu jalani terlebih dahulu. Berharap saya sebagai anak muda bisa hidup lebih baik dari hidup bapak itu sendiri.
Saya menyadari betul, bahwa...
`Saat kita mendengar nasihat dari seseorang, pada saat yang sama orang itu juga sedang memberikan nasihatnya kepada dirinya sendiri di masa lalu.`
Saya gak punya harta benda yang berharga, kerjaan saya menyusuri jalan-jalan dan gang-gang sempit menghibur anak-anak yang ada di sana meskipun beberapa ada yang lari ketakutan karena takut badut dan beberapa juga memaki-maki saya.
Saya gak punya harta benda berharga tapi saya punya anak saya dan itu jauh lebih berharga dari apapun termasuk nyawa saya sendiri, Mas.
Saya belum berhasil jadi orang tua, banyak kurangnya, gak semua yang anak saya mau pasti bisa saya belikan.
Kadang saya bernegosiasi dengan sesuatu yang masih bisa saya usahakan buat dia.
Dan saya berharap anak saya kelak mengerti, memahami betapa besarnya rasa sayang saya yang gak pernah saya ucapkan secara langsung.
Tetapi saya tunjukkan lewat kerja keras saya ini, lewat apa-apa yang saya khawatirkan tetapi saya simpan sendiri.
Dia cukup tau senangnya.
Laki-laki gak pandai menampakkan rasa sayangnya.
Ia terus berusaha memutar otak dalam diam, meskipun isi kepalanya riuh memikirkan banyak hal.
Untuk malaikat kecil saya yang sedang lucu-lucunya, semoga kelak jadi anak yang berhasil jadi anak yang sukses di jalan yang benar.
Saya tersenyum. Obrolan yang lagi-lagi membuka sudut pandang saya terhadap hal-hal baru.
Sudut pandang seorang bapak, salah satu bapak di antara para bapak-bapak yang juga sedang berjuang untuk hidup anaknya dan orang-orang yang tersayang.
Saya meneguk tegukan terakhir dari kopi yang saya beli di warung kopi yang tak jauh dari tempat kami berbincang-bincang.
Saya bersalaman dengan bapak tersebut, memujinya sembari mengacungkan dua jempol untuk beliau.
Seorang bapak yang tangguh dan menjunjung harga dirinya untuk tidak mengemis kepada siapapun, apapun yang terjadi.


😢😢
BalasHapus