Sebuah Pesan
"Haloo, selamat malam, Na. Kamu apa kabar?"
Sebuah pesan berisi pertanyaan klise yang muncul di kolom notifikasiku. Suara notifikasi yang aku sudah tahu siapa pengirimnya karena suara notifikasinya yang kubuat berbeda dari suara notifikasi pesan masuk dari orang lain.
Dulu aku selalu antusias jika namanya terpampang di baris pertama notifikasi setiap aku sedang bekerja atau apapun. Suara notifikasi yang selalu berhasil membuat gairah hidupku kembali. Berhasil membuat aku tersenyum dan merasa cukup. Sebelum akhirnya suara itu jadi suara yang paling aku takuti.
Aku gak tahu siapa yang lebih dulu menghilang. Aku, dia, atau masing-masing dari kami berdua. Sebuah pertanyaan basa basi yang sudah pasti akan aku jawab bahwa aku baik-baik saja bahkan jauh lebih baik. Meskipun hanya sebatas jawaban template yang tidak sepenuhnya jujur. Tapi biarlah, dia tidak perlu tahu lebih jauh.
"Alhamdulillah, Na. Saya ikut senang bacanya. Kalau keluarga... sehat-sehat semua'kan, Na?"
Kujawab dengan jawaban yang tentu saja formalitas semata. Aku tidak ingin dia tahu tentang keadaan aku dan keluargaku setelah dia pergi. Aku tidak ingin dia masuk ke kehidupanku lagi. Aku akan bersikap seolah-olah tanpa dia pun, kehidupanku baik-baik saja. Tidak ada yang berubah dan tidak ada yang berbeda sejak kepergiannya.
"Si Frozen sudah besar ya sekarang? Saya jadi kangen dehh."
Frozen adalah nama kucing persia berwarna putih milikku. Dulu ketika kami masih sering bertukar kabar, bertukar cerita dan segala hal dari aku yang dia ikut menyukainya; begitupun segala hal dari dia yang aku juga ikut menyukainya, termasuk hal-hal yang menyangkut tentang kucingku Si Frozen. Dia selalu tahu itu. Setiap hari aku mengirim foto-foto kucingku kepadanya begitupun dia juga ikut mengirimiku foto-foto kucing miliknya. Aku tidak pernah membayangkan obrolan tentang kucing rasanya akan se-menyenangkan itu. Dia benar-benar paling tahu keseharianku. Yaaa... Memangnya apa yang dia tidak tahu dari kehidupanku? Aktivitasku sehari-hari dari bangun tidur hingga terlelap dengan cerita-cerita yang tidak berbobot? Mana mungkin dia tidak tahu. Dia tokoh yang paling pertama kuberitahu tentang apapun.
Tetapi ada satu hal yang dia tidak tahu... hingga detik ini. Dia tidak tahu bagaimana perasaanku di hari itu di mana entah bagaimana awalnya sehingga kami memilih untuk menyudahi semuanya begitu saja. Bagaimana semua harus diakhiri meskipun sebenarnya aku gak benar-benar ingin mengakhirinya.
Sejujurnya saya benci dengan kata, "Kangen." yang dia sampaikan. Dia pikir setelah dia pergi dan kembali lagi dengan kata kangennya itu bisa membuat semuanya jadi lebih baik? Enggak! Semua jadi lebih buruk karena aku jadi tahu kalau bukan cuma aku yang ngerasa kangen.
Aku yang bego atau memang kami berdua sama saja begonya, aku benar-benar gak tahu.
Dia mengirimiku sebuah foto. Foto anak kucing yang dulu aku kirimkan kepadanya ketika aku baru saja mengadopsi Frozen dari teman kerjaku. Aku gak tahu maksud dia apa. 3 tahun kami berpisah dan dia masih menyimpan foto Frozen? Dia tahu gak sih kalau sebenarnya aku juga masih menyimpan foto-foto yang dulu dia bagikan? Aku gak ngerti kenapa semua jadi begini.
Gak enak banget untuk pura-pura gak antusias sama kamu. Karena kamu selalu tahu caranya. Kamu selalu tahu caranya buat saya merasa lebih didengar, dilihat dan dipahami. Meskipun aku gak paham kenapa kamu memilih pergi gitu aja waktu itu.
"Jadi kamu ngechat aku lagi cuma mau bahas Si Frozen?" Aku gak suka jika dia membawaku kembali mengingat masa-masa itu. Bohong kalau aku gak merasa senang. Dia selalu menyenangkan, gak bisa diganggu gugat.
"Saya bingung harus bahas apa, Na. Kalau bahas kamu, memangnya masih boleh?"
Apa itu? Apa maksud di balik masih bolehmu itu? Kalau aku bilang gak boleh memangnya kamu akan diam terus memilih pergi lagi gitu? Kayak dulu?
"Maksud kamu datang lagi itu apa?"
"Kangennn. Saya kangen kamu, Na."
Apa-apaan sih. Aku kayak gak ada harga dirinya sama sekali. Dia selalu bisa buat saya senang sekaligus marah, cinta sekaligus benci.
"Mau saya temenin cari buku di Toko Buku Bandung, Na? Waktu itu kamu tertarik ke sana'kan?"
![]() |
| source: https://images.app.goo.gl/Xp1mYyBF6eUhgMBs9 |
Waktu itu yang dia maksud adalah 3 tahun yang lalu. Sebelum kami putus dan berpisah. Yaa... Aku memang tertarik ke sana. Kebetulan sudah terlaksana meskipun tidak ditemani dengannya dan tanpa petunjuk arah darinya. Dia selalu tahu jalan ke tempat manapun, dia lebih tahu banyak hal tentang apa saja yang tidak aku ketahui.
Entahlah, kapasitas otaknya bisa menampung begitu banyak informasi, aku masih ingat betul ketika masih bersamanya dulu... Aku mendadak berubah menjadi gadis 'kosong' dengan daya pikir yang begitu lambat yang selalu berjalan di sisinya seperti anak ayam. Mengikuti ke mana arah kakinya berjalan, dengan sangat penurutnya aku, seringkali aku mempertanyakan fungsi kehadiranku itu. Karena entah bagaimana, jika sedang bersamanya, otakku sulit sekali diajak berpikir. Aku benar-benar berubah menjadi gadis yang gak tahu harus ke mana, berbuat apa dan berbicara tentang hal apa.
"Enggak. Enggak perlu. Aku sudah ke sana, 3 tahun yang lalu. Tepat ketika kamu menghilang selama seminggu nggak ada kabar terus dua hari kemudian kamu muncul lagi."
"EH!? Maaf ya, Na. Soal itu."
"Hmmm. Iya, gapapa santai aja."
"Ternyata masih sama kayak dulu cara ngambeknya HHHAHA dasarr. Yaudah, saya minta maaf yaa, Naa. Plissss Maafin saya yaaa!? Sayang tau, Naaa. Kalo wajah kamu dipake buat manyun. Nanti ketuker sama bebek gantungan kunci motor kamu yang dulu kamu beli pas kita ke Jogja, Na. Kamu kalo ngambek kan bibirnya langsung manyunnn."
Ngeselin amat jadi manusia. Dia ini spesies makhluk hidup yang pinter banget ngerayu. Dan begonya saya selalu berhasil kena rayuannya.
Aku hanya membaca chatt yang dia kirim. Aku takut jika bubble-bubble chatt itu semakin terasa menyenangkan dan bertambah banyak dengan topik obrolan yang lebih jauh dari sekadar pertanyaan, "Apa kabar?"
"Kamu sengaja nggak mau bales chatt saya ya, Na? Saya kangen suara kamu tau, Na. Kangennn banget."
Meskipun aku merasakan hal yang sama, aku tidak mau menjadi wanita yang terlalu lugas. Dia harus tahu, aku bukan yang dulu dia kenal. Aku harus bersandiwara seperti itu.
"Kamu di rumah, Na?"
"Iya."
"Dingin banget, Na. Habis kehujanan ya, Naa? HHHAA"
"Enggak. Biasa aja."
"Biasa ajanya kamu itu lohh, Na. Nggak pernah ya ketinggalan dari dulu. Lucu bangett. Yaudah... Saya udah delivery order es kopi susu gula aren less sugar di coffeeshop favorit kamu yaaa. Nanti abang ojolnya kabarin ke nomor kamu kalau udah sampe di sana. Semoga minuman kesukaan kamu bisa bikin kamu jadi maafin saya ya, Naa."
Ck!
Dasar, trik lawas. Dia gak tau bahwa sampai saat ini pun gak ada kesalahan dari dia yang gak aku maafin. Dia selalu bisa membuatku gagal untuk marah lebih lama.
Percakapan itu berhenti sampai di sana. Aku menahan diri untuk tidak membalasnya. Dia juga 'mungkin' sedang menahan diri untuk tidak lagi mengirimiku sebuah pesan setelah itu.



duhhh
BalasHapusGak mau bls kangen juga Na? Gengsi amat ðŸ˜
BalasHapus