Swastamita Paris Van Java
Sore itu, selepas rinai hujan perlahan reda.
Di bawah payung lipat berwarna merah muda milikku; yang tidak cukup besar untuk melindungi tubuh kami berdua dari gemericik tetesan air hujan yang masih tersisa.
Kami menapaki trotoar di sepanjang Jalan Naripan Kota Bandung untuk mencari kudapan yang hangat.
Dia merengkuh tubuhku untuk sedikit merapat ke dada bidangnya, menautkan tangannya di pundak sebelah kiriku dengan pandangan yang tetap lurus ke depan.
"Di setiap sudut Braga tuh emang udah jadi spot andalan calon pengantin buat foto prewed ya?" tanyanya dengan asal sembari terus berjalan.
"HAH? Mmm... Kayaknya sihh gitu yaa. Kenapa emang tiba-tiba bahas begituan? kamu mau prewed di Braga juga?"
"Hhhe...kalo iya, kamu mau?"
"HAHH!? APASIII GAJELAS BANGETT, WUUUU." ledekku.
"Yahh, ditolak ya inii?"
"Apasih ah mulai deh anehnyaa."
"HHHAA... Aku bayangin lagi, liat kamu pake dress warna putih tulang gitu, terus foto di Braga. Pose lucu-lucu gituu,"
"Mauu ya? Sama aku nantii. Di sini." dia meraih jari jemariku dengan jari jemarinya yang begitu besar.
"Aku harus jawab gimana sih kalo ditanya beginii?"
"Mau?"
"Yaa...Ya bolehh dehh."
"YESSS. Ehh btw, kamu kalo mau senyum, senyumm aja. Saltingnya keliatan banget ituu HHHAA."
Aku benar-benar ingin lari. Maluuu.
Aku menambah ritme langkahku; berusaha untuk meninggalkannya di belakang, membiarkan gerimis menyentuh kulit dan pakaianku.
Dia dengan langkah santainya berhasil meng-sejajarkan lagi tubuhnya dengan tubuhku sembari melemparkan cengiran menyebalkan. "Udah udahh, jangan jauh-jauh...kena ujan nanti kamu pusing. Udah jangan ke mana-mana. Siniii."
Hatiku luluh kembali.
Cuaca Bandung saat ini sedang kembali pada cuaca yang sebenarnya; dingin dan sejuk.
Kemacetan masih sering mengular di Jalanan Braga dan sekitarnya, terutama di setiap akhir pekan atau hari libur.
Kami berjalan dengan langkah yang carut-marut, menertawakan jokes bapak-bapak yang sering ia lontarkan.
Aroma petrikor mulai menyeruak berdampingan dengan riak air hujan di beberapa cekungan jalan.
Kami sempat melipir ke gerobak Kue Bandros untuk sekadar mengganjal perut kami yang sedang kelaparan. Sebelum akhirnya langkah kami mendarat di gerobak bakso dengan terpal berwarna biru; tepat di sebelah kanan jalan di seberang Aming Coffee Naripan.
Bandung setelah hujan dan semangkuk bakso atau mie yamin; rasanya seperti sedendipiti yang membuat suasana Bandung sore ini layaknya nirwana yang begitu nyata. Begitu serasi; begitu melengkapi; begitu kirana; untuk dinikmati bersama sang pujaan hati.
Aku setuju, bahwa di Bandung; kamu akan merasakan euforia jatuh cinta yang jauh lebih membahagiakan.
Seolah perasaan-perasaan itu tumbuh dan meletup-letup seiring langkah kaki kalian berjalan.
Kehidupan yang seolah melamban dari ritme yang sebelumnya begitu riuh dan sibuk.
Aku rasa kalian bisa membayangkan sendiri, bagaimana di saat seperti itu; kalian bisa menikmati setiap detik yang bertambah dengan waktu yang begitu lama.
Kalian akan merasa bahwa satu jam berlalu seperti hanya dua puluh menit, kalian akan merasa bahwa sehari rasanya seperti baru tiga jam. Bahkan, lima menit rasanya seperti satu kedipan mata.
Bersama dia yang terkasih, di Bandung; kalian harus menyiapkan jeda waktu yang begitu panjang. Sebab se-lamban apapun yang dikatakan orang-orang tentang ritme kehidupan yang berlangsung di sini, kalian akan tetap merasa bahwa waktu berlalu sangat cepat. Membuat kalian tidak cukup puas untuk singgah di sini hanya untuk sementara waktu. Membuat kalian ingin kembali lagi dan lagi untuk kesekian kalinya.
Itulah sebabnya, beberapa insan berangan-angan; membuat rencana di masa depan; agar kelak tidak hanya menjadikan Bandung sebagai kota persinggahan. Namun, dapat tinggal dan menetap di sini menikmati hari tua yang asri dan tenang.
Tentang Bandung, dua sejoli yang berhasil mengucap janji sehidup semati selamanya dan masa tua di rumah yang berada di sisi Jalan Cipaganti yang dipayungi pohon-pohon trembesi yang begitu besar dan teduh adalah segenggam doa yang paling serius untuk di-aamiinn-kan.



Komentar
Posting Komentar