give me just last one chance

source: https://pin.it/62bLwKmZV


Langkahku berhenti pada sebuah teras ruko kosong yang belum ditempati. 

Hujan turun begitu deras, gemuruh petir menggelegar. 

Sapuan udara dingin memeluk ragaku dengan erat. 

Dibiarkannya dingin itu masuk mengetuk celah-celah hatiku yang telah lama tidak dihuni. 


Aku membuka jok motorku untuk mencari sepasang mantel. 

Ternyata tidak kubawa. 

Menyadari bahwa aku cukup teledor, terbesit pertanyaan di dalam kepalaku, 

Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah Tuhan mengabulkan doaku untuk selalu menjaga setiap langkah kakinya menapaki setiap jalanan kota ini? 



Lamunanku semakin melalang buana. Cukup lama aku berteduh di ruko kosong ini. Langit tidak memberikan pertanda hujan akan mereda, aku memilih untuk kembali melajukan motorku dengan nekat menembus rinai hujan sore ini yang kian lebat. 

Sengaja aku membuka kaca helmku, membuat wajahku terasa seperti sedang diakupuntur. 

Kupejamkan sejenak mataku. Entah mengapa hatiku kembali merasakan ada sesuatu yang hilang darinya. 

Sebuah serpihan yang tidak lagi bisa kutemukan. 



Bagaimana caranya agar setumpuk perasaan rindu yang hampir membusuk ini bisa pulang mengetuk pintu rumahmu? 

Apakah setelah perpisahan itu kamu sudah berhasil menemukan tempat pulang selain aku? 

Ke mana kah harus kucari? 

Apakah kamu sudah memiliki penggantiku? 


Bolehkah kau rengkuh tubuhku sekali saja? 

Aku ingin kamu, di sini. 


Tolong beritahu aku. 

Cara untuk membunuh segala perasaan rindu yang kian hari membuat isi kepalaku berkecamuk tidak karuan ini... 

Aku lemahh.... 



Pandangan mataku masih lurus ke arah jalanan di depanku yang terlihat lengang. 

Aku menambah kecepatan motorku. Tidak ingin ambil pusing bagaimana pemikiran orang sekitar, dengan sadar tubuhku melajukan motor ini secara auto pilot. 

Motorku semakin melaju dengan kecepatan yang semakin tinggi. Pikiranku benar-benar kacau. Aku tidak tahu harus menyikapi perasaan ini dengan marah atau merasa sedih?


Tarikan gasku semakin kencang. Pandanganku sedikit kabur karena perasaan ini ternyata berhasil membuatku menangis.

Kondisi kontur jalanan yang  tidak  rata dan sedikit berpasir membuat motorku seketika oleng dan tergelincir menabrak trotoar. 

Aku menyadari sepenuhnya saat lututku mulai bergesekan dengan kasarnya aspal sore itu yang membuat celana jeansku robek dan lututku berdarah.

Badanku terpelanting jauh ke arah yang berlawanan dari jalur motorku.

Kedua telapak tanganku terasa sangat perih.

Body motorku remuk berceceran akibat benturan yang sangat kencang antara motor dan trotoar.

 


Sore itu. Di bawah rinai hujan lebat yang belum juga mereda. Aku benar-benar merasakan kekalahan yang amat nyata. 




Komentar

Postingan Populer