Se-muram Langit Kota Bogor
Siang hari di langit Kota Hujan ini; terlihat sedikit muram dengan beberapa awan gelap yang menghiasinya.
Aku berdiri di satu sisi tempat pemberhentian kereta. Menunggu kereta yang akan mengangkutku pulang.
Aku sibuk dengan gawaiku karena akhir-akhir ini banyak sekali klien yang memercayaiku untuk meng-eksekusi proyek mereka.
Satu bulir air menetes mengenai kaca mataku. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Untung saja aku sudah menyiapkan payung di tas ransel cokelatku; jadi aman lah.
Kubuka payung berukuran mini tersebut. "Oke, aman." Kutengok arloji hitamku, jam menunjukkan pukul 16:45 WIB. Tak terasa sudah hampir satu jam aku berdiri disini.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar, hingga kedua netraku menangkap se-sosok perempuan yang berdiri di seberang sana. Perempuan dengan tunik berwarna merah maroon dengan flat shoes warna cream. Sang puan menunduk. Lama kuperhatikan hingga sepertinya sang puan menyadarinya. Mata kami bertemu. Dia memandangku dengan lekat, dengan ekspresi yang datar.
Ku tarik napasku dalam-dalam dan kuhembuskan dengan perlahan. Seutas senyuman tipis kusuguhkan untuknya. Sebelum akhirnya bayangnya hilang begitu saja dari pandanganku.
Bogor, 17 Januari 2017
Sepasang muda mudi dengan roda duanya mengitari jalanan di salah satu daerah kecil di Kota Bogor. Sebuah tangan kecil melingkar di pinggang seorang laki-laki bujang berkumis tipis itu. Obrolan absurd yang tidak begitu penting mewarnai perjalanan mereka menyusuri setiap celah Kota Bogor.
"Raaa??"
"Iya? kenapa?"
"Kamu tau kujang di tugu Kota Bogor itu'kan, Ra?"
"Iyaa, tauuu. Kenapa emang?"
"Tau gak? kenapa pake kujang? "
"Tauu. Karena kujang'kan senjata tradisional Provinsi Jawa Barat'kan?"
"Kalo alasan lainnya mau tau gak, Ra?"
"Mauuu."
"Okee. Jadi alasan lainnya, kalo yang dipajang di atas sana itu kamu, nanti makin susah juga aku dapetin kamunya gituu, Ra."
"Idihhhh apasihh, Nggaa. GARINGGG. Lagian ya, ini maksudnya aku lagi disamain sama hadiah panjat pinang kahh?"
"HHHHA bukan kali, Raa... Yaa aku mikirnya nanti orang sini jadi tau, kalo di Bogor ada perempuan setengah peri kayak kamu gituu. Pusingg banget nanti yang ada sainganku makin banyak, Ra."
"Dihhh... Sejak kapan kamu jadi alay begini hahh? " Tara mencubit pinggang laki-laki bernama Rangga tersebut.
"Ketularan kamu nihh. Alayy."
"Rese banget. Dapet ide dari mana coba kamuuu. Mana boleh ngarangnya begituu."
"HHHHAHA tapi dipikir-pikir, beneran alay juga sih." Rangga tertawa sendiri mengingat tingkah lakunya.
Hari-hari terus berlalu dan Kota Bogor menjadi saksi bisu bagaimana seorang Rangga menjaga Tara. Begitu pula dengan Tara, yang semakin merasa setelah ia mengenal Rangga, dunianya semakin terasa indah.
Setiap jengkal Kota Bogor merekam kisah manis dua sejoli ini. Jajan es tebu di sepanjang jalan menuju Pasar Cibinong, kena razia polisi di Polsek Citeureup saat malam takbiran, dan segala cerita sederhana yang membekas di sana.
"Ranggaaa... "
"Iya, kenapa, Ra? "
"Kenapa kita nggak kenal dari dulu aja yaa?"
Lagi, Tara yang senang bertanya ini akan melontarkan berbagai pertanyaan asal yang ke luar dari mulutnya itu. Bersama dengan Tara, itu artinya Rangga harus siap menyiapkan berbagai jawaban dari berbagai pertanyaan tidak tertebak yang akan Tara tanyakan kepadanya.
"Kan kita kenal juga udah lama, Raa."
"Engga maksud aku, kenapa baru sekarang aku nemuin orang sebaik kamu, Nggaa."
Rangga membuka kaleng softdrink nya dan mengalihkan pandangannya ke arah Jalan Raya Cibinong itu.
Ia meneguk minumannya dengan pelan.
"Aku nggak sebaik yang kamu pikirin, Raa. Jangan berharap sama aku."
"Oke. Kalo gitu aku juga sama berartii." Tara cukup keras kepala untuk Rangga yang malas berdebat.
Layaknya episode dalam sebuah film, hubungan tanpa kejelasan keduanya berjalan begitu cepat. Segala hal tentang Rangga begitu unik di mata Tara. Dengannya, Tara merasakan segala hal yang belum pernah ia dapatkan ketika bersama mantan pacarnya yang sudah-sudah.
Satu waktu Rangga nekat pergi ke suatu warung hanya untuk membelikan Tara pembalut, beberapa kali ia juga mengirimi makanan untuk Tara sarapan karena Tara tidak suka sarapan.
Rangga begitu sempurna untuk dimiliki.
"Ranggaaa... kamu ini terbuat dari apa sih?" batin Tara setiap kali ia menatap Rangga.
Sore itu, di Taman Kota.
"Istirahat sebentar, Nggaaa. Pegel banget betis aku." Tara mendudukkan bokongnya di bangku taman sembari memijat kedua betisnya.
Tiba-tiba Rangga pergi begitu saja dari hadapannya. Lalu kembali dengan membawa minyak angin di tangannya.
Mengoleskan minyak angin tersebut di masing-masing betis Tara sembari memijatnya. Tak ada se-patah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Jangan banyak-banyak ih. Berasa udah jadi nenek-nenek tauu. "
"Jadi nenek-nenek juga kamu tetep cakep sih."
Tara menahan diri untuk tidak tersipu malu.
Malam yang begitu sunyi di bawah langit Kota Hujan.
"Nggaa... aku boleh nanya sesuatu ke kamu?"
"Bolehh, apa?"
"Sebenernya kita tuh apa sihh?"
"Penduduk bumi, Ra."
"Ihhh, serius, Nggaaa... kita kan udah sejauh ini ya, tapi aku masih bingung harus nyebut hubungan kita ini sebagai apa."
Rangga masih dengan ekspresi yang begitu datar.
"Kalo emang perasaan kita sama, kenapa kita gak sama-sama aja, Nggaa?"
"Ra... Sama kayak yang pernah aku bilang dulu. Kalo aku tuh gak se-baik yang kamu kira."
"Gak se-baik yang aku kira gimana maksudnya? Selama kita kenal, gak ada hari dimana kamu jahatin aku."
"Ituu kann, keliatannya aja, Raa."
"Kita tuh masih terlalu labil untuk cinta yang serius, Raa."
"Ya terusss??? Aku mau belajar segala hal tentang kamu sama kayak kamu belajar buat terus ngejaga aku; dan mastiin kalo aku gak kenapa-napa. "
"Raaa... kita ini masih muda. Masih punya banyak kesempatan buat nyusun masa depan kita. Emangnya kamu mau ngabisin masa muda kamu buat cinta-cintaan?"
"Aku rasa kalo berproses sama orang yang kita sayang rasa capeknya jadi gak berasa deh."
"Taraa... Kisah cinta gak selalu indah kayak drama yang kamu tonton. Aku gak siap. Terlalu banyak hal yang belum pasti bisa aku wujud in buat kamu. Bahkan buat wujud in apa yang aku mau aja aku gak yakin, Raa."
"Aku gak lagi nuntut apa-apa dari kamuu."
"Raaa... udah yaaa."
"Udah?"
Rangga membuang napasnya dengan kasar. Mengisap rokoknya yang sudah berada di ujung penghabisan. Lalu, ia menginjak habis puntung rokok tersebut.
"Bukan kamu orangnya, Raaa."
"Setelah se-lama ini kita ngabisin waktu berdua? setelah semua hal yang udah kita lewati bareng-bareng? " Tara sedikit menaikkan nada suaranya.
"Iya."
Mulut Tara menganga lebar, tidak pernah berekspetasi jawabannya akan se-buruk ini.
"Kamu bawa aku sejauh ini cuma buat kayak gini, Ngga?"
Rangga diam tak bergeming.
Dengan perasaan kecewanya, Tara memutuskan untuk segera pergi; jauh meninggalkan Rangga seorang diri. Tidak ada usaha apapun untuk menunda kepergian Tara, tidak ada usaha apapun dari seorang Rangga yang selama ini terlihat begitu sempurna untuk dimiliki itu untuk meminta maaf atas perlakuannya ini.
Rangga si Pengecut ini tidak punya energi untuk semua itu.
Ia kembali menyulut sebatang rokoknya. Menatap sejenak punggung perempuan yang berjalan kian menjauh darinya. Ia tersenyum kecut. Masih duduk membisu.
Rangga membiarkan gadis itu menangis. Ini kali pertama Rangga membiarkan gadis itu menangis dan ia tidak bertindak apa-apa.
Malam ini, di bawah langit Kota Hujan. Rangga menyadarkan Tara bahwa fakta dirinya tidak se-baik apa yang dipikirkan oleh Tara adalah hal yang benar.
Tanpa bermaksud untuk menyakiti hati gadis clingy yang gemar bertanya secara asal dengan sifat keras kepalanya itu, Rangga memilih untuk kembali melanjutkan perjalanannya.
Gadis clingy itu. Ya, malam ini, Rangga melihat gadis clingy itu berbeda. Gadis itu bahkan terlihat lebih tegas dan berani untuk mengambil langkah meninggalkan dirinya yang pantas disebut pengecut. Rangga sadar betul bahwa dirinya memang pantas dengan panggilan 'pengecut' itu.
Seorang laki-laki pengecut yang ia juga tahu bahwa dirinya menyayangi gadis itu, tetapi tidak berani berbuat lebih jauh untuk memberinya kejelasan. Laki-laki yang betah berdiri di garis abu-abunya itu. Rangga memang tidak sebaik yang Tara kira. Rangga menyadari hal itu.
Bulan berlalu, tahun berganti.
Dia benar-benar menghilang dari kehidupanku, dan akupun membiarkan dia menyembuhkan luka yang ternyata menyakiti perasaanku juga.
Maaf, saat itu aku masih belum punya kapasitas yang cukup untuk bawa kamu ke tempat yang lebih baik. Masih terlalu takut untuk bawa kamu masuk lebih dalam di kehidupan aku.
Rasanya aku terlalu sibuk.



Komentar
Posting Komentar