Sadrah

 




Tiada hari yang lebih indah dari hari-hari menuju pernikahan setelah sekian lama bersama. Saya yang dulu pernah dianggap remeh oleh seorang perempuan kini ingin memulai hidup baru bersama perempuan lain yang saya harap dialah yang terakhir. 


Hari pernikahan saya dengan perempuan bernama Lia akan berlangsung kurang dari 5 hari lagi. Undangan pernikahan kami berdua sudah tersebar. Menu prasmanan, kebaya, make-up artist, photobooth untuk tamu nantinya dan segala keperluan sudah beres semua. Tenda pernikahan juga sudah dipasang. 


Sore ini, Saya berkunjung ke rumah Lia. Berniat ingin membicarakan seserahan yang sudah kami beli bersama dua minggu yang lalu. Tetapi... Lia tidak ada di rumah.




Saya duduk menunggu di ruang tamu sembari mencoba membunuh waktu menunggu Lia pulang. Ibunya Lia membuatkan saya secangkir teh dengan sedikit gula seperti biasanya. Tidak berselang lama, terdengar sayup-sayup suara motor rx-king dari jauh mendekat ke halaman rumah Lia.


Saya bergegas berdiri di ambang pintu diikuti ibunya Lia. 


Saat itu, Lia, calon istri saya. Yang dalam waktu kurang dari lima hari akan melangsungkan pernikahan dengan saya. Berdiri membelakangi saya. Mencium punggung tangan laki-laki lain di depan saya, kemudian laki-laki itu mencubit pipi Lia dan pergi begitu saja seiring lambaian tangan Lia yang begitu semangat. 


Laki-laki itu sekilas melirik saya, kemudian ia  pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan ibunya Lia. Ibunya Lia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Saya hanya diam. Tidak ada sepatah katapun yang terlintas di kepala saya ketika melihat Lia dengan laki-laki itu. 


"Lia?" ibunya Lia mengernyitkan dahi. 

Lia hanya diam. Kaget ada saya di sana. Lia langsung masuk ke dalam rumah, masih enggan untuk berbicara. 

Kami bertiga duduk di ruang tamu. 


"Siapa??" 

"Teman kerjaku, Buk. Orang dari daerah seberang."

"Kenapa gak sama Rangga?"

"Rangga sibuk, Buk."


Lia menjawab dengan santai. 

Saya menatapnya sekilas, Lia seharusnya tahu bahwa kesibukan saya tidak lain untuk mengurus keperluan pernikahan saya dengan Lia. Mengapa Lia tidak terbuka dan jujur ketika membutuhkan saya? saya usahakan ada, Lia. Untuk kamu.  


"Lia, Ibuk cuma mau ngingetin kalau lima hari lagi kalian akan menikah. Jangan macam-macam!" Lia terdiam mendengar peringatan dari ibunya dengan nada yang tidak begitu tinggi namun cukup menakutkan. 


"Teman kerja gak seharusnya cium tangan dan nyubit pipi kamuu'kan, Lia?" Saya baru  membuka suara. Menatap mata Lia dengan tatapan datar. Jari-jemari saya saling menggenggam erat jari saya yang lain. Saya memang sibuk, mondar-mandir ke sana ke sini untuk mengurus keperluan pernikahan kami, memastikan agar semua berjalan dengan baik. 


"Aku cuma menghormati dia aja." 


"Apa kamu juga menghormati cincin yang ada di jari kamu sebagai bukti keseriusan saya, Liaa?"


Lia langsung menunduk menatap garis lantai ruang tamunya. Sibuk berjibaku dengan dirinya sendiri. Mungkin menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan? 


Dengan pergulatan emosi yang memenuhi ruang tamu rumah ibunya Lia, saya memutuskan untuk berhenti sampai di sana saja. Ya... meskipun semua keperluan sudah dibayar lunas dan persiapan sudah sangat matang. Menurutku, sebuah pengkhianatan tidak pantas dimaklumi. 


Sebenarnya saya sering mendapatkan informasi dari teman kerja saya yang lain tentang kedekatan Lia dan laki-laki tadi. Tetapi apa daya, saya memang lebih percaya dengan Lia. 


Ah, tetapi... saya lihat Lia juga tidak berniat untuk lebih menjaga perasaan saya dan menghargai keseriusan saya sejauh ini untuknya. Saya lihat laki-laki tadi juga mengetahui bahwa Lia tidak sedang dalam status lajang. Mustahil laki-laki itu tidak mengetahuinya.



Tenda sudah terpasang di halaman rumah Lia yang memang memiliki lahannya sendiri, sehingga tidak bercampur dengan rumah sekitarnya. Dan juga adanya sebuah cincin yang melingkar manis di jari Lia. Tidak mungkin jika laki-laki tadi tidak tahu. Memang nekat saja. 



Saya tidak bisa menyalahkan siapapun. 

Mungkin kesalahan juga ada pada saya. 

Tetapi mengapa Lia, calon istri saya itu juga memberikan akses dan meladeni laki-laki itu lebih jauh? 



Lia bahkan diam saja ketika ditanya ibunya inginnya bagaimana.

Apa yang sudah memberatkannya untuk melangkah ke jenjang pernikahan yang persiapannya sudah sangat matang ini? 

Lia, apa yang bikin kamu jadi sulit sekali untuk menunggu saya? 


`Laki-laki bodoh mana yang usianya sudah hampir memasuki kepala tiga dan masih gak mengerti bahwa perselingkuhan berawal dari teman kerja itu memang nyata adanya?`


Saya berpamitan dengan ibunya Lia, bersamaan dengan itu saya serahkan cincin yang sudah saya lepas saat itu juga dari jari manis saya. Ibunya Lia menangis, memeluk dan merangkul tubuh saya. Menepuk-nepuk punggung saya sembari mengusap air muka wajah saya yang menahan rasa kecewa. Meminta maaf atas perlakuan anak perempuannya tersebut, memohon untuk tetap melanjutkan apa yang sudah dipersiapkan sejauh ini. 



Lia hanya diam. Tidak bersuara tidak juga berusaha meminta maaf dan menjelaskan untuk lebih menyakinkan saya. 


Saya dengan mantap melepas rangkulan ibunya Lia. Dengan perasaan hancur saya meminta maaf dan berterima kasih kepada ibunya Lia, karena saya sudah diterima dengan baik di keluarganya. Kemudian saya mencium punggung tangan ibunya Lia untuk berpamitan. Saya bergegas pergi, menyalakan motor scoopy hitam doff milik saya, yang sering saya pakai untuk menjemput Lia.



Ibunya Lia berdiri di ambang pintu, menggenggam cincin yang saya kembalikan, dengan tatapan putus asa dan rasa bersalah; ibunya menangis. Sedangkan Lia, tidak juga bereaksi apa-apa. Masih di ruang tamu. Diam saja. 

Saya mengganggukkan kepala kepada ibunya Lia dan segera pergi dari rumah yang rasanya seperti rumah saya sendiri itu. Sangking sudah lama dan seringnya saya dan Lia bersama. 



Dengan perasaan sesak dan kecewa saya pulang ke rumah. Saya tidak mau tau Lia akan dimarahi seperti apa oleh ibunya. Saya tidak mau tau bagaimana reaksi laki-laki tadi setelah tau bahwa Lia tidak jadi menikah dengan saya. Saya tidak mau tau lagi tentang apapun yang menyangkut dengan Lia; dan laki-laki "teman kerjanya" yang akhir-akhir ini sering menyambangi rumahnya dan mengajaknya pergi bahkan tanpa se-pengetahuan saya dan ibunya Lia sendiri.



Sesampainya di rumah. 

Saya melihat di atas nakas kamar saya, masih ada selusin surat undangan yang ternyata belum sempat saya berikan ke beberapa orang. Tanpa pikir panjang saya pergi ke halaman belakang rumah, membuat bara api unggun kecil. Saya pandangi masing-masing surat undangan dengan desain yang sangat sederhana itu.


Saya baca baik-baik kedua nama yang tertulis di sana.

Nama lengkap saya dan nama lengkap Lia. 


Tiba-tiba waktu menarik saya jauh ke belakang.

Pikiran saya melayang jauh saat di mana Lia;  perempuan yang menjadi partner menghabiskan waktu saya itu masih jadi Lia yang mencintai saya. Menjadi alasan saya selalu semangat mengawali hari-hari saya yang tidak selamanya berjalan dengan baik. Saat kami berbagi tawa, tidak ada yang berpikir bahwa akhirnya akan seperti ini. Lia yang masih mencintai saya (mungkin). Bukan Lia yang sering pergi tanpa sepengetahuan saya dengan laki-laki lain yang katanya sebatas teman kerjanya itu.


Jujur saya sangat menyayangkan kejadian ini, saya sangat kecewa dengan tindakan Lia. 


Saya robek undangan demi undangan tersebut dan saya buang begitu saja ke arah bara api hingga pelan-pelan surat itu terbakar dan lenyap menjadi abu. Bulir air yang terasa sedikit hangat tiba-tiba saja mengalir di sudut mata saya. Sesekali saya menertawakan diri saya sendiri yang sedang payah ini. 

Duduk tersungkur di halaman belakang rumah. Berusaha mencerna semua kejadian ini karena rasanya seperti sedang bermimpi. Antara percaya dan tidak percaya; saya menatap kosong bara api di hadapan saya yang sudah melahap surat-surat undangan saya dengan Lia; begitu juga beberapa foto polaroid yang pernah saya cetak setiap pergi bersama Lia. Ternyata saya harus menikmati luka patah hati lagi. 



Tiba-tiba saja tiga teman kerja saya mengetuk pintu rumah saya. Entah tahu dari mana, mereka izin menginap untuk menemani saya dalam tiga hari ke depan. Saya tidak merasa butuh ditemani tetapi saya juga tidak menolak. Mungkin teman-teman kerja saya yang memang dekat dengan saya dan tahu bagaimana kisah saya dengan Lia itu khawatir saya akan bertindak nekat dalam keadaan sendiri di rumah ini. 

Saya tidak banyak berkata-kata. Hanya diam. Menatap bara api dengan satu surat undangan pernikahan saya dengan Lia yang masih tersisa di genggaman tangan saya. 



Teman-teman saya hanya memerhatikan, tidak berkomentar dan memberi nasihat apapun. Saya rasa mereka cukup merasakan atmosfer yang berbeda dari saya, mungkin... rasanya begitu menyesakkan dan menyedihkan bagi mereka.

Saya tidak peduli. Saya hanya ingin meluapkan kekecewaan saya. Beberapa kali mereka memberikan elusan yang begitu mantap di punggung dan pundak saya. Mencoba memberikan dukungan agar saya tetap kuat. 



Air mata saya mengalir di sudut mata saya. Saya memejamkan mata dalam waktu yang cukup singkat namun begitu dalam. Rasanya ngilu, namun selebihnya tidak bisa dijelaskan bagaimana perasaan sakit itu cukup merusak tubuh dan menguras pikiran saya.

Salah satu teman saya merangkul tubuh saya. Ini kali pertama saya merasa begitu lemah di dalam pelukan tubuh teman saya yang saya tahu dia sebenarnya mudah geli jika harus bersentuhan dengan orang lain sedekat ini. Tetapi di malam ini, dia melakukannya dengan sangat baik. 

Tangisan saya sebagai seorang laki-laki dewasa yang usianya hampir memasuki kepala tiga akhirnya luruh saat itu juga.  



Setelah hari itu, entah sudah hari ke berapa ini.

Kabar burung simpang siur terdengar, bahwa Lia benar-benar menikah dengan laki-laki yang ia bilang "teman kerjanya" itu.

Teman-teman saya tidak berniat memberitahu saya. Saya sudah tahu jauh sebelum itu, dan diberitahu juga oleh orang sekitar yang cukup mengenal saya meskipun tidak begitu dekat. Saya sudah tidak peduli juga dengan berita itu. Saya tidak peduli. 

Saya dan Lia sudah selesai. 



Tahun berganti, saya mulai berani membuka hati dan cerita baru. Semua berkat dukungan teman-teman saya dan doa dari keluarga yang mengiringi saya dari jauh.

Perempuan itu sudah menikah dengan laki-laki pilihannya. Mereka sudah pindah dari perusahaan ini. Nasib begitu cepat membalikkan keadaan antara saya dan Lia. 

Laki-laki yang Lia pilih ternyata standarnya sangat jauh di bawah saya. Laki-laki itu meninggalkan Lia, anaknya dan memilih untuk pergi dengan perempuan lain. 


`Jangan kembali dengan rasa sesalmu itu, tidak semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua. Nikmatilah pilihanmu yang dulu sempat menghancurkanku.`


Kini, luka yang dulu saya rasakan dengan pedih. Harus dirasakan oleh Lia. 

Dan dulu... Tawa yang Lia rayakan dengan laki-laki itu. Kini, dimiliki oleh saya dan pasangan baru saya. Sesekali Lia mencoba untuk kembali masuk ke dalam kehidupan saya , namun tidak saya tanggapi.   



Tidak akan ada akses kedua kali untuk cinta yang se-bodoh itu lagi. Saya benar-benar kecewa. 

Bagaimana dengan Lia? Lia hanya bisa pasrah akan takdir yang berjalan tidak sesuai keinginannya. Lia mungkin ingin saya kembali lagi seperti Rangga yang dulu ia kenal dengan baik. Rangga yang selalu mengusahakannya. Rangga yang dulu sangat mencintainya dan berakhir dengan tragis. 

Sayangnya, saya bukan Rangga yang dulu kamu kenal, Lia. Rangga yang kamu kenal tidak akan kembali, Lia. 




Komentar

  1. Dasar Lia, sebelum kehilangan Rangga yang ia kenal, seharusnya dia tahu yang mana yang harus ia hargai.

    Tulisan kakak senang untuk dibaca, terus berkarya kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa, kadang sesuatu terasa lebih berharga kalau udah jadi milik orang lain 😅

      terima kasiii ya supportnya, sukses!

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer