Evanescent "Yang Berlalu dari Ingatanku."
Aku memberanikan diri untuk menyusuri celah-celah sudut perkotaan ini di jam dua dini hari. Jalanan ini berubah seperti kota mati. Sejenak aku tertahan di bawah pendar lampu jalanan Kota Bandung yang nampak begitu hangat.
Aku menepikan motor vespa tuaku dan memilih untuk duduk di depan pom bensin di salah satu jalan Kota Bandung.
Aku memantik rokok gudang garam filter yang sudah berada di ujung penghabisan, berniat menghabiskan sebatang atau dua batang rokok di tengah suasana sekitar yang sudah sunyi.
Kepulan asap rokok seolah memahami apa yang sedang menggerogoti alam bawah sadarku. Mata sayuku seolah kembali menyaksikan rekaman ulang sebuah film pendek. Aku tersenyum pahit melihat bangunan kecil yang berada tidak jauh dari tempatku duduk.
Sebuah warteg sederhana terletak di pojok deretan bangunan tua di sebelah kiri jalan tepat sebelum perempatan lampu lalu lintas. Di seberang pom bensin Jl. Naripan No. 39 Kota Bandung.
Sebuah warteg yang saat itu kukira adalah sebuah tempat cukur rambut atau barbershop karena logo sendok dan garpu yang dari kejauhan terlihat seperti logo gunting.
Aku tertawa getir mengingat hal itu. Perih sekali rasanya. Perempuan yang tertawa bersamaku kala itu, kini yang tersisa hanya bayang-bayangnya saja.
Suara tawanya, ekspresinya, segala tingkah menyebalkan dan konyol darinya. Ah, sialan. Aku jadi meromantisasi luka ini.
Sebuah tindakan bodoh yang aku pilih dengan sengaja mendatangi kembali tempat-tempat yang dulu menjadi saksi kisah kami, lalu mencoba merayakannya dengan monolog-monolog tentang rasa rindu sekaligus rasa sakit yang kian menghantui hari-hariku.
Aku masih ingat betul bagaimana di hari itu kami sama-sama menyipitkan kedua mata kami agar penglihatan terlihat lebih jelas, berusaha menebak-nebak sebenarnya bangunan apa yang ada di seberang jalan itu? Kami berusaha menerka-nerka apakah itu toko aksesoris, salon kecantikan atau apa? Lalu aku menjawab dengan asal bahwa itu adalah tempat pangkas rambut.
Kami saling memandangi satu sama lain kemudian dia kembali menyipitkan kedua matanya berusaha memastikan kembali, sebelum akhirnya dia tertawa sembari memukul lenganku karena ternyata bangunan yang ada di seberang jalan ini adalah warteg.
Dia tertawa.
Tidak begitu lucu namun berhasil membuatku ikut terkekeh.
Kemudian saat ini rekaman suara tawa itu berubah menjadi sebuah nyanyian dari lirik lagu yang terdengar semakin getir.
Aku tersenyum kecut melihat memori itu berputar begitu saja di tempat ini.
Di mana tidak jauh dari pom bensin ini kami berdiri di bahu jalan bersiap untuk menyeberang menuju warteg jadi-jadian itu.
Aku kembali mengisap rokokku.
Kepulan asapnya kian pekat.
Hanya ada aku, motor vespa ringkihku dan kepulan asap rokok yang tak berkesudahan.
Setelah menyadari bahwa yang kulakukan adalah hal yang cengeng dan menjijikkan untuk dirasakan oleh seorang manusia yang hidupnya sudah terbiasa dibersamai dengan badai.
Aku bangkit dari tempat duduk, menyalakan mesin motorku.
Meresapi udara yang rasanya kian menusuk tulang-tulangku ini.
Pandanganku kosong.
Aku mengabaikan suara deru mesin motor vespa tuaku yang terdengar semakin menyedihkan.
Vespa tua yang semakin ringkih tetapi aku sama sekali tidak berpikir untuk menggantikannya dengan motor keluaran terbaru. Kupikir bagian-bagian kecil di motor vespaku ini masih terlihat bagus, masih bisa kuajak untuk menemaniku ke manapun. Aku juga tidak berniat untuk mengganti apapun yang sudah menjadi bagian dari motor vespa tuaku ini.
Lalu, aku mulai menyadari sesuatu, bahwa... mungkin memang benar... ada beberapa hal di dunia ini yang perlu diganti atau memang harus cepat-cepat diganti agar rusaknya bisa ditangani lebih cepat, agar rusaknya tidak menjalar lebih luas, agar rusaknya tidak menyebar ke bagian lain.
Menggantikan sesuatu dengan yang baru juga tidak selamanya buruk, bukan?




Komentar
Posting Komentar