I Love You So
Adalah hari yang begitu indah, saat pertama kali aku tahu namamu.
Kau bertanya perihal apa saja tentangku.
Menyelipkan pertanyaan-pertanyaan kecil untukku dengan begitu rapi.
Tentang makanan kesukaanku; band favoritku; warna yang paling aku suka; hobiku melakukan kegiatan apa saja?
Lalu, lahirlah beberapa pertanyaan lain yang semakin detail.
Menjelajahi pola pikirku, prinsip hidup yang kupegang, bagaimana opiniku tentang beberapa topik berita yang sedang hangat dalam sepekan ini, apa visi misi yang ingin aku capai dalam waktu dekat maupun dalam jangka waktu yang panjang.
Kau begitu piawai menelusuri apa saja yang menjadi bagian dari diriku dan belajar untuk memahaminya.
Begitu tenang, begitu sabar mendengarkan berbagai celotehanku yang tiada habisnya.
Lambat laun, tidak hanya kamu yang mulai kuizinkan masuk ke dalam hidupku. Kini aku... aku perlahan juga ikut masuk ke dalam hidupmu.
Kau mengenalkanku dengan beberapa teman terdekatmu; aktivitasmu dari membuka mata hingga menutup mata; memberitahuku tentang kegiatan apa saja yang akan kamu lakukan dalam beberapa waktu ke depan; berkeluh kesah tentang hal-hal yang kau rasa menyebalkan di hari itu; mengabariku dengan foto sekali lihatmu itu; dan juga, menanyakan pendapatku tentang, "enaknya makan apa yaaa?" di setiap kali kamu pulang bekerja dan ingin berangkat bekerja.
Kau begitu piawai membuatku merasa dianggap ada dan peranku dibutuhkan.
Kami mulai berbagi senang juga sedih.
Berbagi tawa pun dengan air mata.
Seolah obat dari kampretnya hari yang dijalani adalah saling bertukar cerita.
Kuakui, dengannya aku seperti menemukan makna pulang.
Aku merasa memiliki rumah.
Rumah yang akan menerima tidak hanya sisi terangku, namun juga sisi paling tergelap dari diriku.
Bayangan dari diriku yang tidak banyak orang tahu.
Dia bilang, kami seperti cermin bagi satu sama lain.
Kami memantulkan apa yang ada di hadapan kami, menyadarkan kami akan sisi devil yang tidak baik jika disimpan terus-menerus.
Kami juga memiliki banyak kesamaan yang tidak disengaja.
Sesekali, mengakibatkan kami kelelahan menanggapinya.
Namun, kami memilih untuk tetap bertahan.
Karena, kami sama-sama tahu.
Tidak mudah untuk memulai semuanya dari awal.
Dan... kalaupun mudah pun, belum tentu akan menemukan yang seperti ini.
Yang se-nyaman ini.


Komentar
Posting Komentar